Kamis, 21 Maret 2013

Laporan Fisika Farmasi RHEOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI
REOLOGI
Senin, 25 February 2013



1.    TUJUAN PRAKTIKUM

    Menentukan viskositas emulsicampuran antara paraffin dan CMC dengan menggunakan metode viscometer Brookfield synchroelektrik dan metode bola jatuh.

2.    PRINSIP PERCOBAAN

    Berdasarkan pada penghambatan aliran cairan oleh sifat kekentalan (Viskositas) yang dimiliki cairan, dimana cairan yang memiliki kekentalan yang berbeda, maka kaan memiliki resistensi alir yang berbeda pula.

3.    DASAR TEORI
Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat  cair  untuk  mengalir  semakin  besar  pula  viskositasnya.  Rheologi  adalah  ilmu  yang mempelajari sifat aliran zat cair atau deformasi zat padat. Viskositas mula-mula diselidiki oleh Newton, yaitu dengan mensimulasikan zat cair dalam bentuk tumpukan kartu seperti pada gambar berikut :
Zat cair diasumsikan terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain.Lapisan terbawah tetap diam, sedangkan lapisan di atasnya bergerak dengan kecepatankonstan,sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding langsung denganjaraknya terhadap lapisan terbawah yang tetap. Perbedaan kecepatan dv antara dua lapisan yangdipisahkan dengan jarak dx adalah dv/dx atau kecepatan geser (rate of share). Sedangkan gayasatuan luas yang dibutuhkan untuk mengalirkanzat cair tersebut adalah F/A atau tekanan geser (shearing stress)
Menurut Newton :
F/A     =  dv/dx
F/A     = ηdv/dx
η          =  F/Adv/dx
η          = koefisien viskositas, satuan Poise
Viskositas suatu zat dipengaruhi oleh suhu. Viskositas gas meningkat dengan bertambah tingginya suhu, sedangkan viskositas zat cair menurun denganmeningginya suhu. Hubungan antara viskositas dengan suhu tampak pada persamaan Arrhenius :
A         : konstanta yang tergantung pada berat molekul dan volume molar zat cair
Ev        : energi aktivasi
R         : konstanta gas
T          : suhu mutlak
Hampir seluruh sistem dispersi termasuk sediaan-sediaan farmasi yang berbentuk emulsi,suspense, dan sediaan setengah padat tidak mengikuti hukum Newton. Viskosita cairan semacamini bervariasi pada setiap kecepatan geser, sehingga untuk mengetahui sifat alirannya dilakukan pengukuran pada beberapa kecepatan geser. Untuk menentukan viskositasnya diper-gunakan viscometer rotasi Stormer.          
Berdasarkan grafik sifat alirannya (rheogram), cairan non Newton terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
1. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu.Kelompok ini terbagi atas tiga jenis, yakni :
a) Aliran plastik
b) Aliran pseudoplastik
c) Aliran dilatan
2. Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi oleh waktu.
Kelompok ini terbagi atas tiga jenis, yakni :
a) Tiksotropik
b) Antitiksotropik
c) Rheopeksi
Peralatan yang digunakan untuk mengukur viskositas dan rheologi suatu zat cair disebut viskometer. Ada dua jenis viskometer, yaitu :


1.      Viskosimeter Satu Titik
Viskosimeter ini bekerja pada titik kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu titik pada rheogram. Ekstrapolasi dari titik tersebut ke titik nol akan menghasilkan garislurus. Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan viskositas cairan Newton.Yang termasuk dalam jenis ini misalnya viskosimeter kapiler, bola jatuh, penetrometer, plastometer ,dll.
2.      Viskosimeter Banyak Titik
Dengan viskosimeter ini dapat dilakukan pengukuran pada beberapa harga kecepatangeser sehingga diperoleh rheogram yang sempurna. Viskosimeter jenis ini dapat jugadigunakan baik untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton maupun nonNewton. Yang termasuk ke dalam jenis viskosimeter ini adalah viskosimeter rotasi tipe Stormer, Brookfield, Rotovico, dll.
Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser. Oleh karena itu, vis-kositanya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. Viskometer yang dapat dipergunakan untuk keperluan itu adalah viskometer kapiler atau bola jatuh.  Apabila digambarkan antara kecepatan geser terhadap tekanan geser, maka diperoleh grafik garis lurus melalui titik nol. Contoh cairan Newton adalah minyak jarak, kloroform, gliserin, minyak zaitun, dan air.
Viskometer  bola  jatuh  merupakan  viskosimeter  satu  titik  yang  digunakan  untuk menentukan viskosita cairan newton. Viskosimeter ini bekerja pada satu titik kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu titik pada rheogram. Pada viskometer ini sampel  dan  bola  diletakkan  dalam  tabung   gelas  dan  dibiarkan  mencapai  temperatur keseimbangan dengan air yang berada dalam jaket di sekelilingnya pada temperatur konstan. Tabung dan jaket air tersebut kemudian dibalik, yang akan menyebabkan bola berada padapuncak tabung gelas dalam. Waktu bagi bola tersebut untuk jatuh antara dua tanda diukur dengan teliti dan diulangi beberapa kali.
Prinsip kerja dari  viskometer bola jatuh adalah mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap. Viskometer Hoeppler, merupakan alat yang ada dalam perdagangan berdasarkan pada prinsip ini.  Pada viskosimeter Hoeppler tabungnya dipasang miring sehingga kecepatan bola jatuh akan berkurang sehingga pengukuran dapat dilakukan lebih teliti. Viskometer ini cocok digunakan untuk cairan yang mempunyai viskositas yang sukar diukur dengan viskosimeter kapiler.
Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut (Moechtar,1990).
4. BAHAN DAN ALAT
4.1 Bahan yang digunakan

1.    CMC Na 0,25% dan CMC Na 1 %
2.    Castor Oil
3.    Parafin Liquid
4.    Vaselin Album
5.    PVP 1 %
6.    Aquadest Panas
7.    Air
8.    Alcohol
4.2 Alat yang digunakan
Nama Alat    Gambar Alat        Nama Alat    Gambar
Mortir dan Stamper             Viskometer Brookfield   
Kelereng             Stopwach   
Gelas Ukur             Viskometer Ostwald   
Spatula Logam             Piknometer   
Gelas Beaker             Pipet tetes   


5. PROSEDUR KERJA
a. Membuat Larutan Uji




a. Mengukur viskositas paraffin liquidum dengan metode bola jatuh









b. Mengukur viskositas emulsi (Na CMC, PVP,  Paraffin dan Vaselin Album) dengan metode Brookfield
•    Na CMC dan PVP












•    Paraffin dan Vaselin Album









•    Mengukur Waktu dengan metode Viscometer Ostwald
a.    Menentukan bobot jenis :
1. timbang piknometer kosong (a)
2. isi piknometer kosong dengan air, lalu ditimbang (b)
3. hitung bobot air (b-a)
4. lakukan hal yang sama dari no. 1 sampai 3 untuk piknometer dengan cairan sampel (alkohol)
5. catat hasilnya
b.    Menentukan viskositas :







6. DATA PENGAMATAN
1. Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Metode Bola Jatuh pada  zat  Parafin Liquid.
Berat Kelereng    Volume Awal (Vo)    Volume Akhir (Vt)    Selisih Volume    Waktu
5,74 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:80 dt
5,32 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:48 dt
5,74 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:44 dt
Rata - rata    3,0 ml    00 : 57 dt

2.  Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Brookfield
Zat    Spindel    Kecepatan    Volome    Skala    Koefisien    Viskositas
CMC Na 0,25%    62    6 rpm    300 ml    2    50    100 cP
CMC Na 1%    62    6 rpm    150 ml    10    50    500 cP
PVP 1%    62    6 rpm    150 ml    4    50    200 cP
Paravin    61    6 rpm    250 ml    2    10    20 cP
Vaselin Album    64    6 rpm    150 ml    22    1000    22000 cP

3. Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Ostwald
Sampel    Kerapatan Partikel    Waktu    Viskositas
Air    0,366 gr/ ml    05:00 dt    1,83 cP
alkohol    0,3405 gr/ ml    05:04 dt    1.71 cP


7.  PERHITUNGAN
A. Pembuatan Larutan Uji














B.   Perhitungan Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Brookfield












C. Perhitungan Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Ostwald





















D. Perhitungan Viskositas






8.  PEMBAHASAN
Pada praktikum Reologi kali ini, pertama dilakukan percobaan mengenai viskositas dari larutan Parafin dengan volume awal dari semua kelompok sama yakni 30,0 mL. Percobaan ini menggunakan alat viskometer bola jatuh yakni menggunakan kelereng. Viskometer ini digunakan untuk cairan yang mengikuti hukum Newton yaitu viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak bergantung pada kecepatan geser.  Berikut tabel hasil metode bola jatuh dari setiap kelompok :
Kelompok    Rata – rata Selisih Volume    Rata – rata Waktu
B2    2,6 mL    00 : 48 dt
B3    3,0 mL    00 :57 dt
B5    2,6 mL    00 : 25 dt
Rata – rata keseluruhan kelompok    2,7 mL    00 : 43 dt

Berdasarkan data yang diperoleh dari setiap kelompok sebanyak masing – masing kelompok melakukan tiga kali pengulangan diperoleh rata-rata keseluruhan selisih hasil volume akhir yakni sebesar  2,7 mL dan waktu rata – ratanya 00 : 43 detik.
Kemudian prosedur kedua dilakukan pengukuran viskositas dengan menggunakan metode Brookfield terhadat beberapa zat. Berikut grafik perbandingan nilai viskositas yang diperoleh berdasarkan percobaan yang kami lakukan:
Tabel hasil nilai viskositas masing – masing zat dari seitap kelompok
Zat    Nilai viskositas masing – masing kelompok    Rata – rata
Viskositas
    B2    B3    B5   
CMC Na 0,25%    300 cP    100 cP    500 cP    300 cP
CMC Na 1 %    500 cP    500 cP    875cP    625 cP
PVP 1 %    200 cP    200 cP    550 cP    316 cP
Parafin    150 cP    20 cP    40 cP    70 cP
Vaselin Album    22000 cP    22000 cP    22000 cP    22000 cP

    Berdasarkan perbandingan nilai viskositas pada tabel dan grafik diatas, dapat diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi viskositas suatu cairan atau larutan. Yang pertama yakni pengaruh kecepatan (rpm), dimana semakin tinggi nilai rpm maka nilai viskositasnya semakin besar. Namun pada percobaan ini, setiap kelompok memilih kecepatan yang sama untuk semua zat yakni 6 rpm. Yang kedua yakni, pengaruh spindel terhadap kecepatan putar. Semakin besar spindle yang digunakan, maka nilai viskositasnya pun akan semakin besar hal tersebut terlihat dari hasil rata-rata nilai viskositas semua kelompok dari vaselin album yang menggunakan spindle 64 yakni 22000 cP, hasil ini jauh lebih besar dibanding dengan rata-rata nilai viskositas CMC Na 0,25 % sebesar 300 cP , CMC Na 1 % sebesar 625 cP , PVP 1 % sebesar 316 cP, dimana ketiga zat tersebut menggunakan spindle 62, sedangkan nilai rata-rata viskositas Parafin liquid yang menggunakan spindle 61 nilai viskositasnya lebih kecil sebesar 70 cP.
    Percobaan berikutnya yakni mengukur viskositas menggunakan metode Oswald untuk membandingkan viskositas air dan alkohol. Pada Metode Ostwald yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri.
Berikut tabel hasil pengukuran viskositas menggunakan metode Ostwald dari seluruh kelompok:
Pengukuran    Air    Rata-rata
    B2    B3    B5   
Kerapatan    0,397 gr/mL    0,366 gr/mL    0,279 gr/mL    0,347 gr/mL
Waktu    05:71 dt    05:00 dt    06:19 dt    05 : 63 dt
Viskositas    2,268 cP    1,83 cP    1,72 cP    1,93 cP

Pengukuran    Alkohol    Rata-rata
    B2    B3    B5   
Kerapatan    0,396 gr/ml    0,3405 gr/mL    0,281 gr/mL    0,339 gr/ mL
Waktu    05:67 dt    05:04 dt    05:00 dt    05:23 dt
Viskositas    2,08 cP    1,71 cP    1,40 cP    1,73 cP

    Dari nilai rata – rata data tabel diatas yang diperoleh dari semua kelompok, diketahui bahwa  nilai rata- rata kerapatan  air sebesar 0,347 gr/mL dan  nilai rata-rata kerapatan alcohol  sebesar 0,339 gr/mL. Kerapatan rata – rata air dan alkohol menunjukan bahwa nilai kerapatan air lebih besar apabila dibandingkan dengan kerapatan alcohol. hal itu karena, massa air lebih besar daripada massa alcohol.
    Selain itu, hasil perhitungan kerapatan yang dilakukan dapat membuktikan bahwa semakin banyak waktu yang diperlukan oleh suatu cairan untuk mengalir, maka viskositas cairan tersebut semakin besar  pula. Terlihat dari hasil rata-rata viskositas air  pada tabel yakni 1,93 cP dengan rata – rata waktu 05 : 63 detik sedangkan alcohol nilai rata-rata viskositasnya sebesar 1,73 cP dengan  rata-rata waktu 05:23 detik. Hasil tersebut menunjukan bahwa waktu yang diperlukan oleh suatu cairan untuk mengalir sebanding atau berbanding lurus dengan viskositasnya.

9.    KESIMPULAN
    Selisih volume paraffin liquid  yang didapatkan dengan  menggunakan metode bola jatuh menghasilkan rata-rata selisih volume 3,0 mL dengan rata-rata waktu 00:57 detik.
    Rata-rata selisih volume paraffin dari semua kelompok, sebesar  2,7 mL dan waktu  rata – ratanya 00 : 43 detik.
    Nilai viskositas CMC Na 0,25% sebesar 100 cP, dan nilai rata-rata viskositas CMC Na 0,25% dari setiap kelompok sebesar 300 cP
    Nilai viskositas CMC Na 1% sebesar 500 cP, dan nilai rata-rata viskositas CMC Na 1% dari setiap kelompok sebesar 625 cP.
    Nilai viskositas PVP 1% sebesar 316 cP, dan nilai rata-rata viskositas PVP 1% dari setiap kelompok sebesar 316 cP.
    Nilai viskositas Paravin sebesar 20 cP, dan nilai rata-rata viskositas Paravin dari setiap kelompok sebesar 70 cP.
    Nilai rata-rata viskositas Vaselin Album sebesar 22000 cP.
     Nilai viskositas air sebesar 1,83 cP dengan waktu 5,0 dt, dan nilai viskositas rata-rata dari setiap kelompok yakni 1,93 cP dengan rata – rata waktu 05 : 63 detik
    Nilai viskositas alcohol sebesar 1,71 cP dengan waktu 5,4 dt, dan nilai viskositas rata-rata dari setiap kelompok yakni sebesar 1,73 cP dengan  rata-rata waktu 05:23 detik.   

10.    DAFTAR PUSTAKA
1.    http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-fisika-viskositas-zat-cair.html
2.    http://duniaanalitika.wordpress.com/2009/12/16/tehnik-penngukuran-viskositas/
3.    http://wenimandasari.blogspot.com/p/laporan-termokimia.html
4.    http://linus-seta.blogspot.com/2011/11/penentuan-viskositas-larutan-newton.html
5.    http://ogysogay.blogspot.com/2011/06/laporan-viskositas-dan-rheology.html
6.    Modul Praktikum Fisika Farmasi. 2013. Poltekes TNI AU Bandung.





Praktikum Fisika Farmasi MIKROMERITIKA


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIKA FARMASI
MIKROMERITIKA
Senin, 18 February 2013





















D3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU
BANDUNG
2013
    Tujuan Praktikum
1. Menentukan kerapatan partikel dengan piknometer.
2. Menentukan kecepatan aliran dan sudut istirahat.
3. Menentukan kecepatan curah (ruah) dan sudut istirahat.  

     Dasar Teori


3.  Alat dan Bahan
3.1.Alat yang dipergunakan
No     Alat    Gambar
1     Piknometer 25 mL   
2    Corong Penguap   
3    Corong Gelas   
4    Flowtester   
5    Gelas Ukur   
6    Spatel Logam   
7    Pipet Tetes   
8    Penggaris   


4. Perhitungan - perhitungan
    Menentukan Kerapatan Partikel dengan Piknometer
    Bobot Piknometer    : 15,68 gram
    Bobot Piknometer dengan Parafin cair    : 36,57 gram
    Bobot Asam Oksalat    : 1 gram
    Bobot Piknometer dengan Parafin dan Asam Oksalat    : 36,89 gram/ml
    Bobot Solven    : 20,89 gram
    Kerapatan Partikel    : 0,0487 gram/ml

    Menentukan Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
1.  Amylum Manihot dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    θ
1    60:40 dt    5,3 cm    2,5 cm    0,4716    25,250
2    47:30 dt    5,0 cm    2,5 cm    0,5    26,560
Rata_rata    55:85 dt    5,15 cm    2,5 cm    0,4858    25,900

2. Amylum Manihot dengan Corong Gelas
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    53:40 dt    4,3 cm    2,8 cm    0,6511    33,06o
2    60:13 dt    4,5 cm    2,4 cm    0,5333    28,07o
Rata-rata    56:76 dt    4,4 cm    2,6 cm    0,5920    30,560

3. Granul CTM dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    01,56 dt    4,6 cm    2,0 cm    0,4347    23,490
2    01,34 dt    4,2 cm    2,3 cm    0,5476    28,690
Rata-rata    01:45 dt    4,4 cm    2,15 cm    0,49115    26,090



4. Granul CTM dengan Corong Gelas
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:24 dt    3,9 cm    1,9 cm    0,4871    25,970
2    03:60 dt    3,45 cm    2,0 cm    0,5797    30,100
Rata-rata    03:42 dt    3,675 cm    1,95 cm    0,5334    28,030

5. Starch 1500 dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:24 menit    4,7 cm    2,5 cm    0,5319    28,000
2    04:02 menit    4,2 cm    2,4 cm    0,5714    29,740
Rata-rata    03:68 menit    4,45 cm    2,45 cm    0,5516    28,870

6. Starch 1500 dengan Corong Gelas
pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:49 menit    4,35 cm    2,2 cm    0,5057    26,820
2    03:24 menit    4,45 cm    2,5 cm    0,5434    28,520
Rata-rata    03:36 menit    4,4 cm    2,35 cm    0,5245    27,670


    Menentukan Kecepatan Curah ( Ruah) dengan Kerapatan Mampat
1. Asam Oksalat
Jumlah Ketukan    Asam Oksalat I    Asam Oksalat II
    Volume    Kerapatan    Volume     Kerapatan
0    40 ml    0,6250 gr/ml    40    0,6250 gr/ml
3    39 ml    0,6410 gr/ml    38    0,6578 gr/ml
5    37 ml    0,6756 gr/ml    36    0,6944 gr/ml
10    36 ml    0,6944 gr/ml    34    0,7352 gr/ml
20    34 ml    0,7352 gr/ml    33    0,7575 gr/ml
30    33 ml    0,7575 gr/ml    30    0,8333 gr/ml
50    31 ml    0,8064 gr/ml    29    0,8620 gr/ml

2. Granul CTM
Jumlah Ketukan    Granul CTM I    Granul CTM II
    Volume    Kerapatan    Volume    Kerapatan
               
               
               
               
               
               
               
               


BAB V
ANALISIS DATA PENGAMATAN
    Menentukan Kerapatan Partikel dengan Piknometer
    Diketahui :
    Wo     =
    W1    =
    W2    = W1  Wo
    = 36,57 gram  15,68 gram = 20,89 gram
    W3    =
    W4    =
    Ditanyakan Kerapatan Partikel = …..?
    Jawab  :
    Kerapatan Partikel    = "W2 + W3" /"25 (W4 -W2+W3)"
        =   /   
        =  /
        =   /
        =  …… gr/ml

    Menentukan Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
1. Amylun Manihot dengan Flowtester











    Perhitungan Kecepatan Ruah (curah) dan Kerapatan Mampat
Kompresibilitas (%)  = ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
1. Asam Oksalat
I.     a. Kerapatan Longgar     =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =
II.    a. Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100

    2. Granul CTM
I.    a. Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =
II.    a Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =




9. PEMBAHASAN
1. Kerapatan Partikel dengan Piknometer.
Tabel Hasil Kerapatan Partikel  Semua Kelompok B
Kelompok    Sampel    Kerapatan Partikel
B1    Acetosal    0,0336 gr/ml
B2    Asam Sitrat    0,0557 gr/ml
B3    Asam Oksalat    0,0491 gr/ml
B4    Asam Salisilat    0,0526 gr/ml
B5    Paracetamol    0,0443 gr/ml

        Kerapatan suatu zat merupakan perbandingan massa dan volume zat itu, sehingga nilai kerapatan dapat diukur melalui pengukuran massa dan volumenya. Namun, nilai kerapatan tidak bergantung pada massa zat maupun volumenya. Kerapatan zat, kecil perubahannya terhadap perubahan suhu. Tepung, pasir, kapur, semen, dan sebagainya kurang akurat jika kerapatannya ditentukan dengan menimbang massa dan mengukur volume yang dibentuknya secara langsung. Karena kemungkinan ada celah-celah di antara butiran-butirannya yang ditempati udara. Pengukuran akan lebih akurat jika menggunakan piknometer.
    Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh semua kelompok, dengan sampel yang berbeda-beda didapat hasil kerapatan yang berbeda juga sesuai dengan sampel yang diperoleh. Nilai kerapatan partikel yang didapat akan lebih akurat apabila penimbangan dan prosedur yang dilakukan sesuai atau secara tepat.

2.  Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
Tabel Hasil Percobaan Semua Kelompok B
Rata-rata Tan θ -1  Dengan Flowtester
Sampel    Kelompok
    B1    B2    B3    B4    B5
Granul CTM    17,20o    25,81o    26,09o    23,84o    20,545o
Starch 1500    37,73o    37,15o    28,87o    34,47o    40,605o
Amylum Manihot    -    25,455o    25,90o    25,81o    -
Asam Sitrat    22,65o    -    -    -    22,93o

Tabel Hasil Percobaan Semua Kelompok B
Rata-rata Tan θ -1  Dengan Corong Gelas
Sampel    Kelompok
    B1    B2    B3    B4    B5
Granul CTM    14,26o    25,435o    26,09o    23,625o    21,09o
Starch 1500    14,04o    28,8o    27,67o    37,205o    15,27o
Amylum Manihot    -    21,165o    30,56o    28,1o    -
Asam Sitrat    31,51o    -    -    -    20,42o


3. Kecepatan Curah (Ruah) dan Kerapatan Mampat

Tabel Hasil Kompresibilitas (%) Semua Kelompok B Sampel Granul CTM

Kelompok    Granul CTM
    I    II
B1    12,465%    10,224%
B2    12,8124%    12,4894%
B3    20,40%    20,50%
B4    55,8%    -
B5    14,26%    14,26%

Tabel Hasil Kompresibilitas (%) Semua Kelompok B Masing-masing Sampel

Kelompok    Sampel    Kompresibilitas
B1    Acetosal    I    9,954%
        II    6,614%
B2    Asam Sitrat    I    10,9615%
        II    10,3484%
B3    Asam Oksalat    I    22,49%
        II    27,49%
B4    Asam Salisilat    I    10,2 %
        II    -
B5    Paracetamol    I    47,75%
        II    30,92%





Penetapan Kadar Asam Salisilat Secara Alkalimetri

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT (C7H6O3) SECARA ALKALIMETRI
Tanggal Praktikum : Kamis, 21 February 2012
D-3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU CIUMBULEUIT BANDUNG
2013
Disusun Oleh :
Elda Damayanti
30511016
Dibawah Bimbingan :
Maida Safitri, S,Si., Apt
Tri Wahyuni, S. Farm
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 1
I. PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
a. Mampu menetapkan kadar asam salisilat (C7H6O3) secara alkalimetri.
b. Mampu membuat larutan asam oksalat (H2C2O4) sebagai larutan baku primer.
c. Mampu membuat larutan standar NaOH sebagai larutan baku sekunder serta menetapkan konsentrasi larutan standar NaOH dengan menggunakan larutan standar primer asam oksalat (H2C2O4).
2.2 Prinsip Praktikum
 Reaksi netralisasi asam lemah yaitu asam salisilat (C7H6O3) dengan Basa kuat (NaOH)
2.3 Teori Praktikum
Alkalimetri adalah analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan standar. Analisis anorganik secara kualitatif yaitu proses atau operasi analisis yang digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metode-metode pemisahan masing-masing penyusun yang terdpat dalam suatu campuran.
Dalam titrasi asam-basa, jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asam didefinisikan sebagai senyawa yang mengandung Hidrogen yang bereaksi dengan basa. Basa adalah senyawa yang mengandung ion OH- atau menghasilkan OH- ketika bereaksi dengan air. Basa bereaksi dengan asam untuk menghasilkan garam dan air. (Golberg, 2002)
Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. Pada saat tercapai titik ekivalen, penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen, walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 2
dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol, perbandingan mol, molaritas atau normalitas.
Analisis secara volumetric adalah analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kwantitatif dengan larutan dari suatu zat yang akan ditentukan konsentrasinya. Ada dua macam larutan baku dalam volumetri, yaitu :
a. Larutan baku primer adalah larutan dimana kadarnya diketahui secara langsung karena diperoleh dari hasil penimbangan. Pada umumnya kadara dapat dinyatakan dalam N (mol x ekuivalen / L) atau M (mol / L). Contoh larutan baku primer adalh asam oksalat, natrium oksalat.
b. Larutan baku sekunder adalah larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan dengan larutan baku primer atau dengan metode gravimetri yang tepat. Contoh NaOH (dibakukan dengan larutan primer asam oksalat).
Menurut Indigo Morie (2008), ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, yaitu :
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Asam salisilat (asam ortohidroksibenzoat) merupakan asam yang bersifat iritan lokal, yang dapat digunakan secara topikal. Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam organik. Di samping itu digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling dikenal asalah asam asetilsalisilat.
Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh asam salisilat adalah sebagai berikut:
1. Panas jika dihirup, di telan dan apabila terjadi kontak dengan kulit.
2. Iritasi pada mata
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 3
3. Iritasi pada sauran pernafasan
4. Iritasi pada kulit
Kegunaan Asam Salisilat
Ø Aspirin digunakan untuk obat sakit kepala
Ø Asam salisilat juga digunakan untuk anti jamur pada salep untuk
mengobati penyakit kulit
2.4. Uraian Bahan
1. Natrium hidroksida (Ditjen POM. 1979)
Nama resmi
:
NATRI HYDROXYDUM
Nama lain
:
Natrium Hidroksida
RM / BM
:
NaOH / 40,00
Pemerian
:
Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan menujukan susunan yang hablur; putih, mudah meleleh, basah, sangat akalis, dan korosif, segera menyerap CO2.
Kelarutan
:
Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%).
Kegunaan
:
Sebagai titran.
2. Asam salisilat (Ditjen POM. 1995)
Nama resmi
:
ACIDIUM SALICYLICUM
Nama lain
:
Asam Salisilat
RM / BM
:
C7H6O3 / 138,12
Pemerian
:
Hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur putih, rasa agak manis, tajam, dan stabil diudara.
Kelarutan
:
Larut dalam etanol dan eter, sukar larut dalam air
Kegunaan
:
Sebagai sampel
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 4
Etanol (Ditjen POM, 1995)
Nama resmi
:
AETHANOLUM
Nama lain
:
Etanol
RM / BM
:
C2H5OH / 64,51
Pemerian
:
Cairan jernih; tidak berwarna, bau khas
Kelarutan
:
Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih tidak berwarna
Kegunaan
:
Sebagai pelarut
Fenolftalain (Ditjen POM. 1995)
Nama resmi
:
FENOLFTALAIN
Nama lain
:
Fenolftalain
RM / BM
:
C20H14O4 / 318,2
Pemerian
:
Serbuk atau hablur, putih atau kekuningan
Kelarutan
:
Sukar larut dalam air,larut dalam etanol 95% dan dalam eter p.
Kegunaan
:
Sebagai Indikator
Aquades (Ditjen POM. 1979)
Nama resmi
:
AQUA DESTILLATA
Nama lain
:
Air suling
RM / BM
:
H2O / 18,02
Pemerian
:
Cairan tidak berwarna , tidak berbau, dan tidak berasa.
Kegunaan
:
Sebagai pelarut.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 5
II. METODE
1.1 Alat dan Bahan yang digunakan
A. Alat yang digunakan :
Nama Alat
Gambar
Nama Alat
Gambar
1. Buret
2. Statif
3. Klep Penjepit
7. Pipet tetes
4. Gelas ukur
8. Pipet volume
5. Gelas beaker
9. Corong kaca
6. Erlenmeyer
10. Labu Takar
B. Bahan yang Digunakan :
1. Asam Oksalat 5. Indikator Penoftalin
2. NaOH 6. Indikator Merah Fenol
3. Asam Oksalat 7. Etanol netral 95%
4. Aquadest bebas CO2
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 6
2.2 Prosedur Kerja
2.3 Pembuatan reagen
1. Pembuatan larutan NaOH 0.1 N
2. Pembuatan etanol 95% netral
Masukan 25 ml etanol 95% kedalam erlenmeyer
Tambahkan 1 tetes fenil merah
Tambahkan NaOH 0.1 N tetes demi tetes sehingga larutan warna merah muda
Siap digunakan
Menimbang 4 g NaOH, lalu dibuat larutan NaOH 1000 mL
Menimbang asam oksalat 6,3035 g, lalu dibuat menjadi larutan asam oksalat 1000 mL
Pembakuan larutan NaOH 0.1 N dengan LBP asam oksalat
Menimbang asam salisilat sebanyak 3x
Pembuatan etanol 95% netral untuk masimg-masing sampel 25 ml
Timbang 4 g NaOH, masukan kedalam labu ukur 1000 ml
Tambahkan aquadest 1000 ml
Siap digunakan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 7
3. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat
4. Pembakuan larutan NaOH 0.1 N dengan LBP Asam oksalat
5. Penetapan kadar asam salisilat dengan LBS NaOH 0.1 N
Timbang 500 mg asam salisilat
Tambahkan 25 ml etanol 95% netral
Tambahkan 3 tetes indikator PP
Titrasi dengan NaOH 0.1 N hingga merah muda
10 ml larutan as.oksalat dihidrat, masukan kedalam erlenmeyer
Tambahkan 2-3 tetes indikator phenolftalein
Titrasi dengan larutan NaOH 0.1N hingga merah muda
Timbang 6,3035 g as oksalat, masukan kedalam labu ukur 1000 ml
Tambahkan sedikit aquadest sampi larut
Tambahkan aquadest ad 1000 ml, siap digunakan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 8
III. DATA PENGAMATAN
3.1 Penimbangan Sampel Asam Salisilat
Kertas Timbang
Sampel I
Sampel II
Sampel III
Kertas timbang kosong
102,2 mg
100,4 mg
76,1 mg
Kertas timbang + Isi
602,2 mg
601,2 mg
577,4 mg
Kertas timbang + Sisa
102,3 mg
100,8 mg
77,3 mg
Bobot Sampel
499,9 mg
500,3 mg
500,1 mg
3.2 Data Pembakuan NaOH dengan Asam OKsalat
Replikasi
Bobot penimbangan
Volume Titran (HCl)
1
10,0 ml
9,6 ml
2
10,0 ml
10,8 ml
3.3 Data Penetapan Kadar Asam Salisilat dengan NaOH
Replikasi
Bobot Penimbangan
Volume Titran (HCl)
1
499,9 mg
10,6 ml
2
500,3 mg
10,8 ml
3
500,1 mg
10,7 ml
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 9
IV. PERHITUNGAN
4.1 Pembuatan Asam Oksalat 0,1 N sebanyak 1000 ml Berdasarkan FI IV.
Be = = = 63,035
0,1 N = x
gram = = 6,3035 gram/1000 ml
4.2 Pembuatan NaOH 0,1 N sebanyak 1000 mL Berdasarkan FI IV.
Untuk membuat 1000 ml larutan NaOH 1 N diperlukan 40 gram NaOH.
Maka, untuk membuat larutan NaOH 0,1 N = x 40 gram = 4 gram/1000mL
4.3 Pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat
N NaOH =
I. N NaOH =
= 0,1041 N = 0,0925 N
𝑁𝐴𝑠.𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑥 𝑉 𝐴𝑠.𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻
0 1𝑁 𝑥 10 0 𝑚𝑙9 6 𝑚𝑙
II. N NaOH =
0 1𝑁 𝑥 10 0 𝑚𝑙10 8 𝑚𝑙
Rata – rata Normalitas NaOH = 0,1041 N + 0,0925 N2 = 0,0983 N
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 10
4.5 Penentuank Kadar Asam Salisilat dengan Larutan Baku NaOH.
0,1 N NaOH setara dengan 13,81 mg Asam Salisilat
Kadar Asam Salisilat = 𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 x 100%
I.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 499 9 𝑚𝑔 x 100% = 28,78 %
Rata - rata Kadar Na. Bikarbonat = 8 8%: 9 %: 9 4% = 29,04 %
II.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 8 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝑚𝑔 x 100% = 29,30 %
III.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝑚𝑔 x 100% = 29,04 %
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 11
IV. PEMBAHASAN
Kadar keasaman suatu senyawa dapat dihitung dengan menitrasi asam atau basa dengan menggunakan metode asdimetri dan alkalimetri. Pada percobaan ini dibahas tentang bagaimana suatu senyawa dapat dihitung kadarnya dengan menggunakan metode alkalimetri. Metode alkalimetri yaitu penitrasian suatu asam dengan menggunakan larutan baku basa sebagai titran.
Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna pada larutan titer yang telah ditambahkan indikator. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna pada larutan titer yang telah ditambahkan indikator. Alasan penggunaan indicator penoftalein karena perubahan warnanya yang jelas yaitu pada titrasi alkalimetri warnanya dari tidak berwarna menjadi merah muda. Perubahan warna tersebut yang menandakan titik akhir titrasi.
Pada percobaan ini indikator yang digunakan penolpthalin yang mempunyai trayek pH dari 8,3 sampai 10,0 dan perubahan warnanya dari tak berwarna sampai warnanya merah muda.
Sebelum melakukan penetapan kadar Asam salisilat secara alkalimetri dengan menggunakan larutan baku sekunder NaOH, terlebih dahulu dilakukan pembakuan menggunakan larutan baku primer Asam oksalat untuk mengetahui normalitas dari NaOH sebagai larutan baku sekunder. Dari hasil pembakuan diperoleh kadar rata-rata normalitas NaOH sebesar 0,0983 N.
Reaksi yang terjadi pada pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat adalah sebagai berikut :
H2C2O4 + 2NaOH  Na2C2O4 + 2H2O
Selanjutnya dilakukan penetapan kadar asam salisilat menggunakan larutan baku sekunder NaOH. Penitrasian dilakukan dengan NaOH sehingga larutan mengalami perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Pada penentuan kadar asam salisilat dilarutkan dengan etanol netral 95 % dikarenakan kelarutan asam salisilat itu sendiri larut dalam etanol dan eter dan sukar larut dalam air.
Dari hasil titrasi alkalimetri, didapatkan normalitas NaOH yaitu 0,0983 N, yang berat setara asam salisilat 13,81 mg, maka didapat kadar rata-rata asam salisilat sebesar 29,04 %.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 12
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Normalitas rata – rata NaOH yang diperoleh yakni 0,0983 N
2. Kadar rata-rata natrium bikarbonat yang diperoleh yakni 29,04 %
IV DAFTAR PUSTAKA
http://rikihidayathidayat.blogspot.com/2012/04/praktikum-iii-acidimetri-alkalimetri.html
http://serbamurni.blogspot.com/2012/02/contoh-laporan-praktikum-alkalimetri-dan.html
http://etnarufiati.blogspot.com/2009/03/analisis-kuantitatif.html
http://arullatif.wordpress.com/2012/06/07/titrasi-asam-basa-2/
Sonny Widiarto, 2009. Kimia Analitik 2. Volumetri/Titrimetri.
Modul Praktikum Kimia Farmasi II. 2013. D3 Farmasi Poltekes TNI AU Bandung.
Bandung, 28 February 2013
Praktikan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 13
LAMPIRAN
Pembakuan Larutan Baku Sekunder NaOH dengan Larutan Baku Primer Asam Oksalat.
Penetapan Kadar Asam Salisilat menggunakan Larutan Baku Sekunder NaOH

Rabu, 06 Februari 2013

Apa Kabar yah Rafi Ahmad?


Halloooo sahabat, lama juga ga nulis nulis di blog ini... Akhir2 ini kan marak banget kan berita tentang digrebeknya rumah Rafi Ahmad oleh BNN pada Minggu pagi (lupa tanggal berapa) yang sedang melakukan pesta narkoba? Tapi apa dugaan BNN bener yah Rafi lagi pesta narkoba? Padahal saya baca broadcast di BBM katanya Rafi pulang syuting jam 3. Terus ada beberapa temennya yang mau ikut nginep. Tadinya Rafi sempet mau nolak, cuman ga enak namanya juga ke temen kan. Pas Rafi baru beres mandi tiba-tiba aja BNN menggekedah rumah Rafi Ahmad, dan ditangkaplah Rafi Ahmad oleh BNN akibat dugaan pesta narkoba. Padahalkan??? yah??? apa yah? Ah biar hukum deh yang berbicara masalah itu yah..

Oke!!! yang mau saya bahas sekaranga adalah hebohnya zat yang digunakan Rafi dan temen-temennya, yang kata BNN sih belom ada di undang-undang narkotika No. 35 Tahun 2009 (Nanti UU Narkotika sama Psikotropikanya saya lampirkan deh). menurut Kepala Laboratorium BNN Kuswardani, pemeriksaan pada Rafi Ahmad  ditemukan zat yang merupakan stimulan yang terbentuk dari turunan katinon atau mekatinon. Ya ampun apa yah itu??

YUUUU KITA BAHAS!!!


Cathinone (baca: katinon) merupakan alkaloid yang diekstrak dari tamanan khat (Chata edulis), tanaman herba yang banyak tumbuh di afrika bagian utara. Katinon mempunyai struktur kimia mirip dengan obat-obatan yang sudah kita kenal efedrin dan amfetamin.  Perubahan struktur kimia pada katinon menghasilkan berbagai macam turunan zat atau komponen kimia baru yang biasa disebut dengan kation sintetis. Uniknya katinon sintesis ini mempunyai potensi dan efek farmakologi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan zat aslinya. 

Katinon sintesis biasanya terdapat dalam bentuk serbuk, kristal, larutan. Selain itu juga terdapat dalam bentuk tablet dan kapsul. Rute administrasi/penggunaannya tergantung pada bentuk sediaannya, cara penggunaan yang paling banyak dilakukan oleh pengguna katinon sitetis adalah dengan menghisap serbuk/kristal obat tersebut melalui hidung atau menelannya apabila zat tersebut dalam tablet atau kapsul. Rute administrasi lainnya adalah melalui injeksi langsung intravena, dimasukkan lewat rektal atau dengan menelan mentah-mentah serbuk yang dibungkus dengan kertas.

Para pecandu pada umumnya menggunakan obatan ini dengan mencoba-coba yang pada akhirnya mengalami ketergantungan. Pada awalnya obat-obatan ini akan menyebabkan efek menyegarkan tubuh, menghilangkan rasa lelah, menambah stamina dan menambah kepercayaan diri. Dan pada umumnya mereka tidak sadar akan dampak negatif yang ditimbulkan dengan menggunakan obat-obatan ini. Berbagai artikel ilmiah menunjukkan bahwa penggunan katinon sintesis secara akut maupun kronik ini dapat berakibat buruk bahkan membahayakan kesehatan. Pengguanan secara akut dalam dosis efektif bisa mengakibatkan gejala palpitasi jantung, kejang, muntah, sakit kepala, perubahan warna (discolorisation) pada kulit, hipertensi, hiper-refleksia, euforia dan halusinasi; bahkan pada dosis yang sangat besar bisa menyebabkan kematian. Gejala yang muncul pada penggunaan jangka panjang yang dirasakan oleh pecandu obat-obatan ini antara lain paranoid, pendarahan hidung (karena sering digunakan untuk menghisap obat-obatan tesebut, rusaknya gigi, gangguan penglihatan, kaku pada rahang dan pundak, agitasi, tremor, demam atau berkeringat dingin. Penggunaan dalam jangka panjang akan juga meningkatkan risiko kematian karena overdosis. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa katinon sintesis ini mampu menyebabkan menyebabkan ketergantungan psikis dan fisik, seperti halnya obat-obat psikostimulan lainnya.

Seperti pada umumnya obat-obatan yang dapat menyebabkan ketergantungan, katinon sintesis ini bekerja dengan meningkatkan kadar neurotransmitter dopamin dan serotonin. Jika amfetamin dan turuannya lebih dominan meningkatkan kadar dopamin dibandinkan dengan serotonin atau MDMA/ekstasi lebih dominan meningkatkan kadar serotonin dibanding dopamin, katinon sintesis ini mampu meningkatkan kadar kedua neurotransmitter tersebut dalam jumlah yang sangat besar (hingga 900% dari kadar normal). Sehingga beberapa penelitian menunjukkan efek farmakologis turunan katinon ini merupakan kombinasi antara methamphetamin (sabu) dan MDMA (ekstasi). Bahkan beberapa kasus kematian yang disebabkan oleh katinon sintesis ini dikarenakan oleh sebuah sindroma yang dinamakan sindroma serotonin, dimana terjadi peningkatan kadar serotonin dalam jumlah yang besar diotak dan seluruh tubuh, menyebabkan gangguan jantung, pembuluh darah, sistem saraf dan organ-organ penting lainnya.
Indentifikasi awal katinon dan katinon sintesis dalam cairan tubuh seperti halnya urin atau dalam darah dapat dapat dilakukan dengan tes warna. Namun seiring pengujian ini sering menimbulkan false positif / kurang spesifik, validasi dengan metode lain yang lebih terpercaya haruslah dilakukan. Beberapa teknik analisis tersebut antara lain teknik kromatografi gas dengan tandem spektrofotometri masa. Selain itu teknik analisis farmasi lain yang bisa digunakan adalah spektrofotometer infrared dan nuclear magnetic resonance (NMR).

Berdasarkan efek farmakologi dan bahaya kesehatan yang ditimbulkan tersebut Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dalam konvensi substansi psikotropika tahun 1971 memasukkan katinon kedalam daftar narkotika golongan 1, suatu narkotika atau psikotropika yang hanya boleh digunakan untuk penelitian, tidak boleh digunakan untuk pengobatan. Seperti halnya dalam undang-undang kesehatan no 35 tahun 2009 tentang narkotika, dalam tabel konvensi tahun 1971 tersebut hanya terdapat 2 buah katinon yang masuk dalam golongan 1, yaitu katinon dan meth-katinon, sedangkan turunan lainnya tidak dimasukkan/ belum dalam daftar golongan 1 ini. Negara-negara lain seperti Amerika serikat melalui rekomendasi dari DEA (Drug enforcement administration, BNNnya Amerika serikat) telah memasukkan turunan lainnya terutama MPDV, Mephedrone dan methylone kedalam golongan 1 psikotropika. Dan pada tahun 2011 kembali DEA kembali menegaskan bahwa ketiga katinon sintetik tersebut termasuk dalam narkotika yang ilegal dan sangat membahayakan.

*Sumber : http://seputarnarkoba.wordpress.com/

Tuh kannnnn!!! Lagian kita anak Farmasi khususnya udah pada tau kan Undang-undang yang mengangkut Narkotika maupun Psikotropika?  Setidaknya kalau ada orang-orang disekitan kita mulai terjerumus dengan hal-hal yang berbau Narkoba sebaiknya kita beri peringatan dengan berbagai alasan yang bisa dimengerti oleh mereka sehingga orang-orang yang kita sayangin bisa terhinda dari barang haram dan berbahaya itu. Dan buat Rafi Ahmad mya IDOLA. Oh i'm so SAD. Tapi mungkin ini yang terbaik buat dia. Badai Pasti Berlalu!!!.

Tapi yah kalo boleh sekedar saran buat BNN mendingan Rafi Ahma jangan di tahan (Dipenjara) tapi direhabilitasi dan diberi pengarahan dan pembelajaran agar dia bisa mengajak kalangan muda untuk menjauhi narkoba berdasarkan pengalaman yang dia alami betapa tidak enaknya menggunakan narkota istilahnya bisalah Rafi dijadiin duta ANTI NARKOBA secara dia kan publick figur. Buat kita semua, mulai dari sekarang jauhi narkoba!!!!




Kamis, 17 Januari 2013

Farmasi dan Kesehatan Penerbangan

Nama     : Elda Damayanti
NIM    : 30511016
Tugas Mata Kuliah Kesehatan Penerbangan

1.    Mekanisme Kerja Antihistamin Generasi Pertama dan Generasi Kedua Serta Efek Samping yang Ditimbulkan Bagi Penerbang.

    Definisi Antihistamin
Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H-1, H-2 dan H-3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek histamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas.
    Antihistamin Golongan Generasi Pertama
Obat-obat ini bisa dibeli tanpa resep, dan dapat digunakan untuk gejala ringan sampai sedang. Pemberian obat golongan ini perlu dipertimbangkan jika pasien harus berada dalam keadaan waspada/terjaga, misalnya anak-anak yang harus belajar di sekolah, atau orang yang bekerja sebagai sopir atau menjalankan mesin, termasuk seorang pilot/copilot, karena obat-obat ini bisa mengganggu pekerjaannya dengan sifatnya yang membuat kantuk. Oleh karena itu, penggunaan obat-obat Antihistamin golongan generasi pertama tidak diperbolehkan FAA digunakan bagi penerbang. 2
Antihistamin generasi pertama contohnya CTM, Prometazin, Dipenhidramin, Feniramin 
1.    Klorpheniramin ( CTM)
-    Efek              : antihistamin (efek lebih kuat dari feniramin ), sedativ ringan
-    Penggunaan : pengobatan alergi seperti rhinitis alergia, urtikaria , asma bronchial, dermatitis atopik, eksim alergi, gatal- gatal dikulit, udema angioneurotik.
-    Efek samping : mengantuk 3
2.    Prometazin
-    Efek                : antihistamin, meredakan batuk, antiemetik, sedativ, hipnotik
-    Penggunaan    : obat batuk, obat kombinasi untuk sindrom parkinson, mencegah mual dan mabuk perjalanan
-    Efek samping : mengantuk 3

3.    Difenhidramin ( diphenhdramin)
-    Efek               : antihistamin kuat, sedativ, antikolinergik, antispasmodik, antiemetik, dan antivertigo.
-    Penggunaan   : obat batuk, obat mabuk perjalanan , anti gatal-gatal karena alergi,dan obat tambahan pada penyakit parkinson.
-    Efek samping : mengantuk 3

4.    Feniramin ( pheniramin)
-    Efek                 : antihistamin kuat , meredakan batuk.
-    Penggunaan     : obat batuk, antialergi
-    Efek samping  : mengantuk 

    Antihistamin Golongan Generasi Kedua
Antihistamin yang lebih baru, yang digolongkan generasi kedua, relatif tidak menyebabkan kantuk, atau sedikit menyebabkan kantuk. Sehingga diperbolehkan oleh FAA untuk dikonsumsi oleh penerbang. Beberapa ada yang bisa dibeli bebas, sebagian ada yang harus dibeli dengan resep dokter. Contoh obat-obat golongan ini antara lain mebhidrolin napadisilat, cetirizin, loratadin, dll. 2
1.    Mebhidrolin Napadisilat
-    Efek                 : antihistamin ( tidak bersifat menidurkan)
-    Pengunaan       : gatal karena alergi
-    Efek samping  : - 3

2.    Cetirizin
-    Efek                 : antihistamin
-    Penggunaan     : perineal rhinitis , rhinitis alergi, urtikaria idiopatik
-    Efek samping  :-   3
3.    Loratadin
-    Efek                 : antihistamin
-    Penggunaan     : rhinitis alergi, urtikaria kronik, dermatitis alergi, rasa gatal pada hidung dan mata, rasa terbakar pada mata.
-    Efek samping  :- 3

Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang signifikan. Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan menimbulkan efek antikolinergik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama kurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem saraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi kedua. Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih kuat terikat dengan protein plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak. Oleh karena itu generasi pertama tidak diperbolehkan oleh FAA.

2.    Alasan Minosiklin tidak diperbolehkan oleh FAA.
Minosiklin tidak diperbolehkan oleh FAA karena efek sampingnya dapat menyebabkan kerusakan pada bagian vestibular dari telinga dalam, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam menjaga keseimbangan. 
Gangguan vestibular ini terjadi bila mendapat minosiklin yang menumpuk dalam endolimfe telinga dan mempengaruhi fungsinya.  Gangguan keseimbangan adalah gangguan yang menyebabkan seseorang merasa goyah, pusing, pening, atau memiliki sensasi gerakan, berputar atau mengambang. Efek berputar dikenal sebagai vertigo.

    Alat Vestibuler
Bagian telinga dalam non auditori (disebut alat vestibuler) terdiri dari dua sub-divisi fungsional: kanalis semisirkularis (dua vertikal dan satu horizontal) dan organ otolit (utrikulus dan sakulus). Kanalis semisirkularis merasakan putaran kepala, dan organ otolit merasakan percepatan linier kepala. Fungsi utama utrikulus adalah mengisyaratkan posisi kepala relatif terhadap gravitasi. Kerusakan sakulus menimbulkan kelainan yang kurang berarti dibandingkan dengan kerusakan utrikulus, sehingga fungsi sakulus kurang jelas dibanding utrikulus. Sakulus pernah diduga sebelumnya merupakan reseptor pendengaran frekuensi rendah, namun akhir-akhir ini studi sistematis khusus menunjukkan bahwa serabut saraf sakulus bereaksi hanya pada percepatan linier. Diperkirakan bahwa sistem sakulus memberikan reaksi terhadap percepatan vertikal tingkat tinggi, yang perlu untuk menimbulkan respon motorik yang dibutuhkan untuk mendarat secara optimal sewaktu terjatuh. 9
- Mual atau muntah         - Perasaan “menggantung” atau “mabuk laut” di dalam kepala
- Mabuk kendaraan        - Nyeri telinga
- Sensasi telinga penuh    - Sakit kepala
- Bicara campur-aduk        - Peka terhadap tekanan atau perubahan suhu dan arus angina
Efek samping diatas adalah sebagai alasan mengapa minosiklin dilarang dikonsumsi oleh penerbang.



3.    Obat AntiTBC
    Obat-obat Anti TBC yang diperbolehkan dikonsumsi oleh penerbang karena efek samping yang ditimbulkan memungkinkan penerbang untuk tidak meninggalkan tugas terbang, asalkan dalam penggunaannya harus dengan adanya pengawasan dari dokter.
1.    Rifampisin
    Mekanisme kerja Rifampicin dengan menghambat sintesa RNA dari mikobakterium.
    Efek Samping :
•    Gangguan gastrointestinal dan gangguan fungsi hati
•    Pernah dilaporkan timbulnya ikterus, purpura, reaksi kepekaan kulit. Trombositopenia, leukopenia.
•    Dapat terjadi abdominal distress (ketidaknyamanan pada perut) dan pernah dilaporkan terjadinya kolitis pseudo membrane.
•    Juga pernah dijumpai keluhan-keluhan seperti influenza (flu syndrome), demam, nyeri otot dan sendi.

2.    Isoniazid (INH)
INH harus diikutsertakan  dalam setiap regimen pengobatan, kecuali bila ada kontra-indikasi. Efek samping yang sering terjadi adalah neropati perifer yang biasanya terjadi bila ada faktor-faktor yang mempermudah seperti diabetes, alkoholisme, gagal ginjal kronik dan malnutrisi dan HIV. Dalam keadaan ini perlu diberikan peridoksin 10 mg/hari sebagai profilaksis sejak awal pengobatan. Efek samping lain seperti hepatitis dan psikosis sangat jarang terjadi. Oleh karena itu penggunaan INH bagi penerbang diperbolehkan asalkan harus disertai pengawasan dari dokter.
3.    Pyrazinamid
Bersifat bakterisid dan hanya aktif terhadap kuman intrasel yang aktif membelah dan mycrobacterium tuberculosis. Efek terapinya nyata pada dua atau tiga bulan pertama saja. Obat ini sangat bermanfaat untuk meningitis TB karena penetrasinya ke dalam cairan otak. Toksifitas hati yang serius kadang-kadang terjadi. Sehingga penggunaan untuk penerbang harus dengan adanya pengawasan dari dokter. 9

    AntiTBC yang tidak diperbolehkan bagi Penerbang
1.    Etambutol
    Etambutol digunakan dalam regimen pengobatan bila diduga ada resistensi. Jika resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan. Untuk pengobatan yang tidak diawasi, etambutol diberikan dengan dosis 25 mg/kg/hari pada fase awal dan 15 mg/kg/hari pada fase lanjutan (atau 15 mg/kg/hari selama pengobatan). Pada pengobatan intermiten di bawah pengawasan, etambutol diberikan dalam dosis 30 mg/kg 3 kali seminggu atau 45 mg/kg 2 kali seminggu.
    Efek samping etambutol yang sering terjadi sehingga tidak doleh dikonsumsi oleh penerbang adalah gangguan penglihatan dengan penurunan visual, buta warna dan penyempitan lapangan pandang.  Efek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila ada gangguan fungsi ginjal.
    Gangguan awal penglihatan bersifat subjektif; bila hal ini terjadi maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera dihentikan, biasanya fungsi penglihatan akan pulih. Pasien yang tidak bisa mengerti perubahan ini sebaiknya tidak diberi etambutol tetapi obat alternative lainnya. Pemberian pada anak-anak harus dihindari sampai usia 6 tahun atau lebih, yaitu disaat mereka bisa melaporkan gangguan penglihatan. Pemeriksaan fungsi mata harus dilakukan sebelum pengobatan. 9


4.    Obat Antidepresan
New York, Depresi lebih dari sekedar perasaan kesedihan atau tekanan yang mendalam selama beberapa waktu. Tapi kini pilot yang mengalami depresi ringan boleh terbang.
Larangan terbang bagi pilot yang mengonsumsi obat antidepresan akan segera dicabut. Gangguan depresi ringan hingga sedang tidak lagi menjadi penghalang bagi pilot untuk bertugas.
Sebelumnya, larangan bagi pilot untuk mengonsumsi obat antidepresan telah diberlakukan di AS selama 70 tahun. Dilaporkan oleh Reuters, Minggu (4/4/2010) larangan tersebut akan dicabut mulai Senin depan.
Selain karena obat-obat antidepresan telah banyak mengalami perkembangan, Badan Penerbangan AS (FAA) menilai pelarangan tersebut justru telah memunculkan efek yang tidak diharapkan. Di antaranya adalah kecenderungan para pilot untuk menutup-nutupi depresi yang dialami dan bahkan meninggalkan pengobatan agar bisa tetap bertugas.
"Kita ingin mengubah kultur dan menghapus stigma tentang depresi. Pilot (yang mengalami depresi -red) harus bisa mendapat pengobatan yang semestinya sehingga bisa menjalankan tugas dengan aman," kata administrator FAA, Randy Rabbitt.
Meski larangan tersebut akan dicabut, ketentuan bagi para pilot tetap ada. Sebelum benar-benar boleh terbang, pilot wajib membuktikan lewat screening test bahwa pengobatan telah berjalan sukses setidaknya 1 tahun.
Kebijakan tersebut juga hanya mengizinkan pemakaian 4 jenis obat antidepresan. Keempatnya adalah Prozac dari Eli Lilly and Co, Zoloft dari Pfizer Inc, serta Celexa dan Lexapro keduanya dari Forest Laboratories Inc.
"Obat lain akan diijinkan jika terbukti efektif pada pilot yang bersangkutan,"ungkap Dr Fred Tilton, salah satu dokter di FAA.
Seperti dilansir medlineplus, depresi adalah penyakit medis yang serius yang melibatkan otak. Depresi lebih dari sekedar perasaan kesedihan atau tekanan yang mendalam selama beberapa waktu.
Depresi dialami jutaan penduduk dunia mulai dari yang depresi ringan (Dysthymic disorder) hingga depresi berat seperti depresi unipolar. Depresi bisa mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang.
Gejala depresi antara lain:
    Kesedihan yang mendalam
    Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas
    Berat badan turun
    Susah tidur atau tidur yang berlebihan
    Kehilangan tenaga
    Merasa tidak berharga
    Selalu berpikir tentang kematian atau bunuh diri

Depresi banyak dialami orang usia antara 15 sampai 30 tahun dan wanita paling banyak mengalami depresi ketimbang pria termasuk depresi sehabis melahirkan (depresi pospartum). Pengobatan untuk depresi antara lain minum obat antidepresi atau jika sudah parah melakukan terapi.


5.    Asam Mefenamat sebagai NSAID (Non Steroid Anti Inflamasi Drugs)
Aspirin (Asam Mefenamat)




    Farmakologi :
       Cara Kerja Asam mefenamat adalah seperti OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid atau NSAID) lain yaitu  menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX-1 & COX-2). Asam mefenamat mempunyai efek antiinflamasi, analgetik (antinyeri) dan antipiretik.
    Indikasi:
   Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.
    Kontraindikasi:
   Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat.  Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna.
*Karena tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan bagi tugas terbang, olehkarena itu asam mefenamat diperbolehkan oleh FAA digunakan oleh penerbang tanpa harus meninggalkan tugas terbang.


Daftar Pustaka
http://studifarmasi.blogspot.com/2011/08/penggolongan-antihistamin.html
 http://habib.blog.ugm.ac.id/kuliah/histamin-dan-antihistamin/
  http://zulliesikawati.wordpress.com/tag/antihistamin/
  http://alfinjazz.blogspot.com/2011/01/antihistamin.html
  http://id.scribd.com/doc/92239575/Tetrasiklin-Turunannya
  http://yosefw.wordpress.com/2009/03/19/farmakokinetika-klinik-tetrasiklin/
  http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/08/04/vestibular-disorders/
  http://www.hexpharmjaya.com/page/rifampicin.aspx
  http://kautsarku.wordpress.com/2009/09/11/tuberkulostastik-obat-dan-efek-sampingnya/
http://health.detik.com/read/2010/04/04/090651/1331445/763/index.php
http://mipa-farmasi.blogspot.com/2012/03/aspirin-asam-mefenamat.html

Rabu, 09 Januari 2013

Lirik Lagu CINTA SEJATI BY Bunga Citra Lestari

Saking terkagum dengan film Habibie & Ainun. Saya pun membuat Pos lyric dari OST Film Habibie & Ainun yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari (berperan sebagai Ainun). Lagu ini diciptakan oleh Melly Goeslaw. bait demi bait lagu ini bermakna dahsyat sedahsyat film nya juga. yuuuuk CEKIDOT liat Lyric nya......

Manakala Hati Menggeliat Mengusi Renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengan rindumu memanggil namaku

saat aku tak lagi disisimu
ku tunggu kau dikeabadian

aku tak pernah pergi selalu ada dihatimu
kau tak pernah jauh selalu ada didalam hatiku
sukmaku berteriak menegaskan kucinta padamu
terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

saat aku tak lagi disisimu
ku tunggu kau dikeabadian

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapapun insan Tuhan
pasti tahu cinta kita sejati

saat aku tak lagi disisimu
ku tunggu kau di keabadian

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapapun insan tuhan
pasti tahu cinta kita sejati

lembah yang berwarna membentuk melekuk memeluk kita
dua jiwa yang melebur jadi satu
dalam kesucian cintaaaaaa...

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapapun insan Tuhan
pasti tahu cinta kita sejati.
Manakala hati menggeliat mengusik renungan Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta Suara sang malam dan siang seakan berlagu Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati Lembah yang berwarna Membentuk melekuk memeluk kita Dua jiwa yang melebur jadi satu Dalam kesunyian cinta Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati

dari: http://iniliriklagunya.blogspot.com/2012/12/lirik-lagu-bunga-citra-lestari-bcl.html#.UO12XIE-dnM
salam kenal ya :)
Manakala hati menggeliat mengusik renungan Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta Suara sang malam dan siang seakan berlagu Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati Lembah yang berwarna Membentuk melekuk memeluk kita Dua jiwa yang melebur jadi satu Dalam kesunyian cinta Cinta kita melukiskan sejarah Menggelarkan cerita penuh suka cita Sehingga siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati

dari: http://iniliriklagunya.blogspot.com/2012/12/lirik-lagu-bunga-citra-lestari-bcl.html#.UO12XIE-dnM
salam kenal ya :)

Review Film Habibie dan Ainun


Pada tanggal 21 Desember 2012, sederet film berkualitas dirilis salah satunya film yang menakjubkan menurut saya apalagi kalo bukan film Habibie & Ainun karya sutradara Faozan Rizal yang diangkat dari buku (lebih tepatnya buku apa novel yah? entahlah) best seller Habibie & Ainun karya B J Habibie ini berhasil menarik perhatian masyaraka indonesia. Hal itu terbukti dari jumlan penonton yang menakjubkan yakni tercatat sebanyak 2,1 juta penonton selama 18 hari pemutaran film Habibie & Ainun. Angka yang sungguh fantastic.

Pertama serempak diputar diseluruh bioskop indonesia pada tanggal 21 Desember, saya benar-benar tertarik dan tak sabar ingin segera menonton film tersebut. Akhirnya selang 3 hari pemutaran film Habibie & Ainun sayapun bisa menonton film yang penuh pesan-pesan yang begitu menyentuh. Perjuangan pun tak lepas saya rasakan pada saat menonton film yang berkualitas ini, saking banyak sekali yang berminat untuk menonton film ini, antrian panjang pun terjadi. dan yang lebih membuat saya begitu menggeleng-gelengkan kepala. Antrian penonton sudah terjadi hampir 2 jam sebelum bioskop dibuka. waw. Saya bersama kedua teman saya pun mengantri di tangga masuk bioskop sambil nungguin bioskop dibuka. Hampir satu jam menunggu, akhirnya pintu bioskop di buka dan perjuangan pun dimulai. Berdesakan, kepanasan sampai akhirnya tiket Film Habibie dan Ainun pun kita dapatkan. Horeeeeeeeeeee!!!!!

Tiket nonton BTC Studia 1 kursi C nomor 11, 12, 13. perasaan euforia sebelum menonton pun terasa begitu kental. Sungguh amazing film besutan Faozan Rizal ini. Sentuhan kisah pa Habibie dan ibu Ainun yang di filmkan begitu membuat luruh dan terkesan bagi setiap orang yang menonton filmnya. Awal film itu di putar, suasan vintage begitu kental. Kisah, alur, dan plot disusun secara apik sehingga kita mampu mengikuti alur filmnya.

Saya begitu terkagum dengan kesetiaan antara pa Habibie dan juga ibu Ainun. Cinta yang sejati, cinta yang tulus. sehingga mampu meneteskan air mata saya selama menonton film ini. Film yang berkualitas dan banyak nilai-nilai kesetiaan dan kehidupan yang dapat kita ambil dari realita kehidupan dan kisah cinta habibie dan ainun. kesetiaan yang ditunjukan oleh pa habibie dan kesetiaan yang ditunjukan oleh ibu ainun memberikan mereka kekuatan dan semangat. sungguh kisah cinta yang begitu indah dan penuh haru.

Bagi yang masih penasaran dengan film yang membahana cetar badai halilintar ini, cepetan nonton dijamin tidak akan nyesel. Film yang penuh pelajaran kehidupan bagi kita yang menontonnya diantara maraknya film-film indonesia yang bersifat Horor (iiuuuhh), sexi-sexi (iiihhh) yang tidak ada nilanya sama sekali. Habibie dan Ainun adalah film yang wajib kita tonton karena kisah yang disajikan mampu memberikan pemahaman yang hakiki tentang apa yang namanya CINTA SEJATI.