Kamis, 21 Maret 2013

Laporan Fisika Farmasi Tegangan Permukaan

LAPORAN FISIKA FARMASI
TEGANGAN PERMUKAAN
Senin, 04 MARET 2013
D-3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU CIUMBULEUIT BANDUNG
2013
Di Susun Oleh :
1. Devi Rahmayanti (30511010)
2. Elda Damayanti (30511016)
3. Hesti Apriyani (30511026)
4. Itjce Swenda Manalu (30511030)
5. Rimawati (30511044)
Dibawah Bimbingan :
1. Ratih Wigatiningsih, S. Farm., Apt
2. Eva Pahlani, S.Si.,Apt
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 1
I. Tujuan Praktikum
a. Menentukan tegangan permukaan air, gliserin, dan paraffin cair dengan menggunakan tensiometer Du nouy atau plate wihelmy.
b. Mengamati pengaruh surfaktan terhadap tegangan permukaan.
II. Dasar Teori
Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastic. Selain itu, tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu kemampuan atau kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti bola atau ringkasnya didefinisikan sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya. Seperti silet, berat silet menyebabkan permukaan zat cair sedikit melengkung ke bawah tampak silet itu berada. Lengkungan itu memperluas permukaan zat cair namun zat cair dengan tegangan permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaan-nya sekecil mungkin.
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Tegangan permukaan didefinisikan sebagai gaya F persatuan panjang L yang bekerja tegak lurus pada setia garis di permukaan fluida.
Permukaan fluida yang berada dalam keadaan tegang meliputi permukaan luar dan dalam (selaput cairan sangat tipis tapi masih jauh lebih besar dari ukuran satu molekul pembentuknya), sehingga untuk cincin dengan keliling L yang diangkat dari permukaan fluida dapat ditentukan dari pertambahan panjang pegas halus penggantung cincin (Dianometer) sehingga tegangan permukaan fluida memiliki nilai sebesar :
Dimana : = tegangan permukaan (N/m)
F = Gaya (Newton)
L = Panjang permukaan selaput fluida (m)
Tegangan antar muka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari pad tegangan
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 2
permukaan karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar dari pada adhesi antara cairan dan udara. (Hamid.2010)
Ada beberapa metode dalam melakukan tegangan permukaan :
- Metode kenaikan kapiler
Tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/ cairan yang naik melalui suatu kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan permukaan tidak bias untuk mengukur tegangan antar muka.
- Metode tersiometer Du-Nouy
Metode cincin Du-Nouy bisa digunakan utnuk mengukur tegangan permukaan ataupun tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina iridium yang diperlukan sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka dari cairan tersebut.
Pada dasarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya suhu dan zat terlarut. Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan cairan berbentuk lapisan monomolecular yang disebut dngan molekul surfaktan.
Faktor-faktor yang menpengaruhi :
- Suhu
Tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu, karena meningkatnya energy kinetik molekul.
- Zat terlarut (solute)
Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar. Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan cairan membentuk lapisan monomolecular, maka akan menurunkan tegangan permukaan, zat tersebut biasa disebut dengan surfaktan.
- Surfaktan
Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan.
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 3
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat yang digunakan
NAMA ALAT
GAMBAR
Beaker Glass
Cawan Petri
Kompor Listrik
Gelas Ukur 100 mL
Objeck Glass
Jangka Sorong
Batang Pengaduk & Spatel Logam
Tensiometer Du Nouy
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 4
3.2 Bahan
1. Aquadest
2. Gliserin
3. Paraffin Liquid
4. Tween 80
IV. Prosedur Kerja
1. Mengukur Tegangan Permukaan Aquadest dan Gliserin
Ukur panjang dan lebar dari lempeng kaca yang digunakan
Isi masing – masing cawan petri dengan aquadest dan gliserin
Tetapkan jarum skala pada angka 0, kenakan lempengan kaca pada cairan yg terdapat dalam cawan petri. Amati perubahan skala yang terjadi
Lakukan cara yang sama seperti diatas pada gliserin
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 5
2. Mengukur Tegangan Permukaan Parafin + Tween 80 dengan Konsentrasi 1 %, 2 %, 3 %, 4 %, 5 %.
V. HASIL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN
1. Tegangan Permukaan Aquadest dan Gliserin
Zat
Volume
Lempeng Kaca
Skala
Tegangan Permukaan
Rata – rata
Tegangan Permukaan
P
L
I
II
I
II
Aquadest
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
0,7 dyne
0,7 dyne
0,03 dyne/cm
0,03 dyne/cm
0,03 dyne/cm
Gliserin
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
0,5 dyne
0,5 dyne
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
Timbang tween 80 1 % 300mg, Tween 80 2% 600 mg, Tween 80 3 % 900 mg, Tween 80 4% 1200 mg, Tween 80 5 % mg 1500 %. Masukan masing – masing tween 80 dalam cawan petri.
Tambahkan paraffin cair kedalam masing-masing cawan petri sebanyak 30 mL
Aduk campuran paraffin cair dan tween 80 pada masing- masing cawan petri
Tetapkan jarum skala pada angka nol, kenakan lempengan kaca pada cairan yg terdapat dalam cawan petri
Amati perubahan skala yang terjadi
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 6
2. Data Pengamatan Tegangan Permukaan Parafin cair dengan Tween 80
Konsentrasi
Bobot Zat
Volume Parafin cair
Lempeng Kaca
Skala
P
L
I
II
1 %
300 mg
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
1,0 dyne
1,1dyne
2 %
600 mg
30mL
7,35 cm
2,25 cm
0,8 dyne
0,8 dyne
3 %
900 mg
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
0,6 dyne
0,7 dyne
4 %
1200 mg
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
0,5 dyne
0,5 dyne
5 %
1500 mg
30 mL
7,35 cm
2,25 cm
0,4 dyne
0,4 dyne
3. Tegangan Permukaan Parafin cair drngan Tween 80 dalam berbagai Konsentrasi
Zat
Tegangan Permukaan
Rata – rata
Tegangan Permukaan
I
II
Tween 80 1 %
0,05 dyne/cm
0,05 dyne/cm
0,05 dyne/cm
Tween 80 2%
0,04 dyne/cm
0,04 dyne/cm
0,04 dyne/cm
Tween 80 3%
0,03 dyne/cm
0,03 dyne/cm
0,03 dyne/cm
Tween 80 4%
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
Tween 80 5%
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
0,02 dyne/cm
VI. Perhitungan – Perhitungan
1. Penimbangan Tween 80 dengan Parafin Cair 30 mL dalam berbagai Konsentrasi.
1. Pembuatan Tween 80 1 % = x 30 mL = 300 mg.
2. Pembuatan Tween 80 2 % = x 30 mL = 600 mg.
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 7
2. Perhitungan Tegangan Permukaan Aquadest dan Gliserin
3. Perhitungan Tegangan Permukaan Tween 80 1%
1. Tegangan Permukaan Aquadest
I. Aquadest = = = = 0,03 dyne / cm
3. Pembuatan Tween 80 3 % = x 30 mL = 900 mg.
4. Pembuatan Tween 80 4 % = x 30 mL = 1200 mg.
5. Pembuatan Tween 80 5 % = x 30 mL = 1500 mg.
II. Aquadest = = = = 0,03 dyne / cm
Rata-rata aquadeest = = 0,03 dyne/cm
2. Tegangan Permukaan Gliserin
I. Aquadest = = = = 0,02 dyne / cm
II. Aquadest = = = = 0,02 dyne / cm
Rata-rata aquadeest = = 0,02 dyne/cm
I. Tween 80 1% = = = = 0,05 dyne / cm
II. Tween 80 1% = = = = 0,05 dyne / cm
Rata-rata aquadeest = = 0,05 dyne/cm
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 8
4. Perhitungan Tegangan Permukaan Tween 80 2%
5. Perhitungan Tegangan Permukaan Tween 80 3%
6. Perhitungan Tegangan Permukaan Tween 80 4%
7. Perhitungan Tegangan Permukaan Tween 80 5%
I. Tween 80 2% = = = = 0,04 dyne / cm
II. Tween 80 2% = = = = 0,04 dyne / cm
Rata-rata Tween 80 2% = = 0,04 dyne/cm
I. Tween 80 3% = = = = 0,03 dyne / cm
II. Tween 80 3% = = = = 0,03 dyne / cm
Rata-rata Tween 80 3% = = 0,03 dyne/cm
I. Tween 80 4% = = = = 0,02 dyne / cm
II. Tween 80 4% = = = = 0,02 dyne / cm
Rata-rata Tween 80 4% = = 0,02 dyne/cm
I. Tween 80 5% = = = = 0,02 dyne / cm
II. Tween 80 5% = = = = 0,02 dyne / cm
Rata-rata Tween 80 5% = = 0,02 dyne/cm
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 9
VII. PEMBAHASAN
1. Tegangan Permukaan Air dan Gliserin
Tegangan permukaan merupakan tahanan atau gaya yang diperlukan oleh zat untuk mengimbangi gaya kohesi antar molekul zat dari gaya terhadap zat lain dipermukaan. Pada percobaan kali ini untuk setiap kelompok digunakan air dan gliserin untuk diuji tegangan permukaannya.
Grafik Rata-rata Keseluruhan Tegangan Permukaan Air dan Gliserin.
Setelah dilakukan percobaan, rata-rata tegangan permukaan air keseluruhan adalah 0,03 dyne/cm . Hal tersebut menunjukkan bahwa gaya yang bekerja antara air dan udara yang sejajar permukaan zat cair untuk mengimbangi gaya kohesi antara molekul air di bagian dalam adalah 0,03 dyne/cm.
Sedangkan pada gliserin rata-rata tegangan permukaan keseluruhan yang didapat adalah 0,02 dyne/cm. Tegangan permukaan gliserin ini menunjukkan bahwa gaya yang bekerja antara gliserin dan udara yang sejajar permukaan gliserin untuk mengimbangi gaya kohesi antara molekul gliserin di bagian dalam adalah 0,02 dyne/cm.
Berdasarkan literature tegangan permukaan air seharusnya lebih besar dari pada gliserin, karena berat jenis air lebih besar daripada gliserin. Air memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air dibandingkan dengan gliserin. Pada permukaan air, bagian polarnya akan mengarah ke air, sedangkan bagian yang non polar akan mengarah ke udara. Hal tersebut menyebabkan gaya adhesi antara molekul
0,3
0,2
0
0,2
0,4
Air
Gliserin
Rata - rata Tegangan Permukaan Air dan Gliserin
Rata - rata
Tegangan
Permukaan Air
dan Gliserin
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 10
air dan udara semakin meningkat sehingga gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin yang tercelup kedalam zat cair semakin kecil.
Pada percobaan ini digunakan surfaktan yaitu tween 80 sebagai zat terlarut yang dilarutkan dalam paraffin cair dengan volume 30 mL dengan berbagai konsentrasi yang berbeda untuk setiap kelompok. Berikut grafik perbandingan nilai tegangan permukaan dari masing-masing kelompok antara paraffin dan tween 80 dengan konsentrasi yang telah ditentukan.
0,03
0,03
0,03
0,02
0,03
0
0,005
0,01
0,015
0,02
0,025
0,03
0,035
Paraffin +
Tween 80
0,1 %
Paraffin +
Tween 80
0,5 %
Paraffin +
Tween 80
1%
Paraffin +
Tween 80
1,5 %
Paraffin +
Tween 80 2
%
Tegangan Permukaan Parafin + Tween 80 Kelompok B2
Tegangan Permukaan
(dyne/cm)
0,05
0,04
0,03
0,02
0,02
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
Parafin +
Tween 80
1%
Parafin +
Tween 80
2%
Parafin +
Tween 80
3%
Parafin +
Tween 80
4%
Parafin +
Tween 80
5%
Tegangan Permukaan Parafin + Tween 80 Kelompok B3
Tegangan Permukaan
(dyne/cm)
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 11
Pada percobaan ini digunakan tween 80 dengan konsentrasi yang berbeda-beda, untuk kelompok kami (B3) yaitu digunakan konsentrasi tween 80 berturut-turut yaitu, 1%, 2%, 3%, 4%, sampai dengan konsentrasi 5%. Nilai tegangan permukaan yang kami peroleh dari percobaan dapat diketahui bahwa seiring dengan peningkatan konsentrasi tween 80 maka skala yang terbaca pada alat semakin kecil. Skala yang terbaca itu sebanding dengan gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin yang tercelup kedalam zat cair, maka semakin kecil skala yang terbaca pada alat, semakin kecil pula gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin yang tercelup kedalam zat cair. Nilai tegangan permukaan yang didapat seiring dengan peningkatan konsentrasi tween 80 yang ditambahkan semakin menurun, hal tersebut dapat terlihat pada grafik No.3 (kelompok B3). Namun, jika dilihat dari skala yang terbaca, ada satu skala yang penurunannya tidak mengikuti ritme berdasarkan kenaikan konsentrasi. Hal itu terlihat dari nilai tegangan permukaan pada konsentrasi 4 % dan 5% nilai keduanya sama yakni 0,02 dyne/cm.
Namun, hasil yang kelompok kami (B3) dapatkan masih cukup baik dibandingkan nilai dari kedua kelompok yang lain yakni B2 dab B5. Nilai tegangan permukaan yang diperoleh dari kedua kelompok tersebut (dapat dilihat pada grafik 1 dan 3) tidak sesuai dengan syarat pada literature yaitu semakin tinggi konsentrasi surfaktan (tween 80), maka semakin kecil tegangan permukaannya.
Penyimpangan nilai tegangan permukaan pada kelompok B2 dan B5 serta nilai tegangan permukaan kelompok kami yang pada konsentrasi 4% dan 5 % hasilnya sama dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya; penggunaan alat, pemutaran alat penunjuk skala tidak sepenuhnya tepat serta dipengaruhi oleh pengguna alat tersebut Sehingga hasil percobaan untuk kelompok B2
0,03
0,03
0,02
0,04
0,04
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
Parafin +
Tween 80
1,5%
Parafin +
Tween 80
3%
Parafin +
Tween 80
4,5%
Parafin +
Tween 80
6%
Parafin +
Tween 80
7,5%
Tegangan Permukann Parafin + Tween 80 Kelompok B5
Tegangan Permukaan
(dyne/cm)
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 12
dan B5 tidak sesuai dengan literature, yaitu semakin tinggi konsentrasi surfaktan, maka nilai tegangan permukaannya semakin menurun.
VIII KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai beriku :
1. Rata – rata tegangan permukaan ( ) air sebesar 0,03 dyne/cm
2. Rata – rata tegangan permukaan gliserin sebesar 0,02 dyne/cm
3. Rata – rata tegangan permukann dari Parafin + Tween 80 dengan konsentrasi sebagai berikut :
a) Parafin + Tween 80 1 % = 0,05 dyne/cm
b) Parafin + Tween 80 2 % = 0,04 dyne/cm
c) Parafin + Tween 80 3 % = 0,03 dyne/cm
d) Parafin + Tween 80 1 % = 0,02 dyne/cm
e) Parafin + Tween 80 1 % = 0,02 dyne/cm
4. Dari hasil nilai tegangan permukaan dapat diketahui bahwa, semakin besar konsentrasi tween 80 (surfaktan), maka nilai tegangan permukaan yang diperoleh semakin menurun.
[LAPORAN FISIKA FARMASI] Senin, 04 MARET 2013
[Type the company name] | 13
VIII DAFTAR PUSTAKA
http://riizky007.blogspot.com/2012/10/tegangan-permukaan.html Diakses 07 Maret 2013.
http://ogysogay.blogspot.com/2011/05/laporan-tegangan-permukaan.html Diakses 07 Maret 2013.
Wavega. 2009. Tegangan Permukaan, (Online), (http://wavega.wordpress.com/ 2009/08/07/tegangan-permukaan/, diakses 07 Maret 2013)
San. 2009. Tegangan Permukaan, (Online). (http://www.gurumuda.com/tegangan-permukaan/, diakses 07 Maret 2013)
Bandung, 07 Maret 2013
Praktikan
(Kelompok B3)

Laporan Fisika Farmasi Sistem Dispersi

LAPORAN RESMI KELOMPOK PRAKTIKUM FISIKA FARMASI
 SISTEM DISPERSI
SENIN, 11 MARET 2013
















D-3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN
TNI AU CIUMBULEUIT BANDUNG
2013

    TUJUAN PRAKTIKUM
    Menentukan dispersibilitas suatu zat dalam pelarut air dengan penambahan cmc dalam berbagai konsentrasi.

    DASAR TEORI
A. Sistem Dispersi
Sistem terdispersi terdiri dari partikel-partikel kecil yang dikenal sebagaifase terdispersi yang terdistribusi secara merata keseluruh medium kontinu atau medium dispersi. Bahan-bahan yang terdispersi bisa saja memiliki ukuran partikel berdimensi atom atau molekul sampai partikel yang dapat diukur dengan satuan milimeter. Oleh karena itu, cara paling mudah untuk menggolongkan system dispersi adalah berdasarkan diameter dari partikel rata-rata dari bahan yang terdispersi. Umumnya, sistem dispersi digolongkan menjadi tiga, yaitu:
    Dispersi Molekular atau biasa disebut larutan
    Dispersi Koloidal
    Dispersi Kasar
B. Suspensi
Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus disebarkansecara merata dalam pembawa obat dimana obat tersebut menunjukkan kelarutan yang sangat minimum. Beberapa suspense resmi diperdagangkan dalam bentuk siap pakai, ada juga yang tersedia dalam bentuk serbuk kering (dry syrup) untuk disuspensikan dalam cairan pembawa (umumnya berupa air), salah satu contohnya adalah suspensi antibiotika yang biasa ditemukan dalam bentuk drysyrup.
Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan pembuatan suatu suspensi farmasetik yang baik. Di samping khasiat terapeutik, stabilitas kimia dari komponen-komponen formulasi, kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari sediaan. Ada sifat lain yang lebih spesifik untuk suspensi farmasi:
    Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mengendap secara lambat dan harus rata kembali bila dikocok.
    Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
    Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.
Terdapat beberapa point yang dapat menjadi penilai kestabilan sediaan suspensi. Yaitu:
1. Volume sedimentasi
Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula-mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.  Rumus F = Vu/Vo 
Bila F = 1 atau mendekati 1, maka sediaan baik karena tidak adanya supernatant jernih pada pendiaman
•      Bila F > 1 terjadi “floc” sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih besar dari volume awal
•      Formulasi lebih baik jika dihasilkan kurva garis horisontal.
2. Derajat flokulasi.
Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu)terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).
3. Metode reologi
Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas,membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.
    Perubahan ukuran partikel
Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampaititikbeku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
    Deflokulasi :
Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
Sedimentasi yang terjadi lambat masing - masing partikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal. Sedimen terbentuk lambat. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi. Wujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi dalam waktu relatif lama. Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.
    Flokulasi :
Partikel merupakan agregat yang bebas. Sedimentasi terjadi cepat. Sedimen terbentuk cepat. Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula. Wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
Monografi Bahan Uji Sistem Dispersi :
    NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM (Na-CMC)
Natrium Karboksi metil selulosa adalah garam natrium polikarboksimetil eter selulosa. Mengandung tidak kurang dari 6,5 % dan tidak lebih dari 9,5 % Na, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Kekentalan larutan 2 gram dalam 100 mL air, untuk zat yang mempunyai kekentalan 100 cP atau kurang, tidak kurang dari 80 % dan tidak lebih dari 120 % dari ketentuan yang tertera pada etiket; untuk zat yang mempunyai kekentalan lebih dari 100 cP, tidak kurang dari 75 % dan tidak lebih dari 140 % dari ketentuan yang tertera pada etiket.
Pemerian : Serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau; higroskopik.
Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi koloidal; tidak larut dalam etanol (95 %) P, dalam eter P dan dalam pelarut organik lain.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat.
Khasiat dan Penggunaan : Zat tambahan. (FI III 1979, Halaman 401)

    Parasetamol (Acetaminophen)
Asetaminofen mengandung tidak kuran dari 98,0% dan tidak lebihdari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian      : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan         : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalm 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.
Khasiat         : Analgetikum ;Antipiretikum.
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat yang Digunakan
Nama Alat    Gambar    Nama Alat    Gambar
1. Mortir dan Stamper         2.Beaker Glass   
3.Spatel Logam         4.Pipet Tetes   
5.Gelas Ukur         6.Kompor Listrik   

3.2 Bahan yang Digunakan
1. Na-CMC
2. Paracetamol
3. Aquadest

VI. PROSEDUR
    Pembuatan Suspensi untuk Blangko















    Pembuatan Suspensi dengan campuran Paracetamol

















V. HASIL PENGAMATAN

5.1 Hasil Pengamatan Blanko CMC 3 %

Waktu    Volume Awal    Volume Akhir    F    Sedimentasi
0 menit    100 ml    100 ml    1    stabil
15 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
30 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
60 menit    100 ml    99 ml    0,99    Stabil
45 jam    100 ml    99 ml    0,99    Stabil

5.2 Hasil Pengamatan Blanko CMC 3,5%

Waktu    Volume Awal    Voluma Akhir    F    Sedimentasi
0 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
15 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
30 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
60 menit    100 ml    99 ml    0,99    Stabil
45 jam    100 ml    99 ml    0,99    Stabil

5.3 Hasil Pengamatan Paracetamol + CMC 3 %

Waktu    Volume Awal    Volume Akhir    F    Sedimentasi
0 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
15 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
30 menit    100 ml    99 ml    0,99    Stabil
36 menit    100 ml    98 ml    0,98    Stabil
45 jam    100 ml    98 ml    0,98    Stabil

5.4 Hasil Pengamatan Paracetamol + CMC 3,5%

Waktu    Volume Awal    Volume Akhir    F    Sedimentasi
0 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
15 menit    100 ml    100 ml    1    Stabil
30 menit    100 ml    99 ml    0,99    Stabil
38 menit    100 ml    99 ml    0,99    Stabil
45 jam    100 ml    98 ml    0,98    Stabil





     Data Volume Sedimentasi (F) Setiap Kelompok.

    Volume Sedimentasi (F) Kelompok B1

Waktu    Blanko CMC    PCT + CMC
    CMC 1,5 %    CMC 2,5 %    PCT + CMC 1,5 %    PCT + CMC 2,5%
0 menit    1    1    1    1
15 menit    1    1    1    1
30 menit    0,99    0,99    0,99    0,99
60 menit    0,98    0,98    0,97    0,98
45 jam    0,69    0,93    0,93    0,98

    Volume Sedimentasi (F) Kelompok B2
Waktu    Konsentrasi blanko CMC    PCT + CMC
    CMC 0,5 %    CMC 1 %    PCT + CMC 0,5 %    PCT + CMC 1%
0 menit    1    1    1    1
15 menit    1    0,99    0,99    1
30 menit    0,99    1    1    0,99
60 menit    0,99    0,99    1    1
45 jam    0,41    0,11    0,15    0,47

    Volume Sedimentasi (F) Kelompok B4

Waktu    Konsentrasi blanko CMC    PCT + CMC
    CMC 1 %    CMC 2 %    PCT + CMC 1%    PCT + CMC 2%
0 menit    1    1    1    1
15 menit    1    1    0,98    1
30 menit    0,99    1    0,98    0,995
60 menit    0,99    1    0,98    0,99
45 jam    0,39    0,89    0,49    0,94

    Volume Sedimentasi (F) Kelompok B5

Waktu    Konsentrasi blanko CMC    PCT + CMC
    CMC 2,5 %    CMC 3 %    PCT + CMC 2,5 %    PCT + CMC 3%
0 menit    1    1    1    1
15 menit    1    1    1    1
30 menit    0,99    0,99    0,99    1
60 menit    0,98    0,985    0,99    1
45 jam    0,38    0,98    0,99    0,99

VI. PERHITUNGAN - PERHITUNGAN

6.1 Penimbangan Bahan









6.2 Perhitungan Volume Sedimentasi (F)
Volume Sedimentasi (F) dapat diketahui dengan membagi Volume akhir suspense setelah terbentuk endapan (Vu) dengan volume awal setelah sebelum terbentuk endapan (V0).
Rumus : F = Vu/V0

























VII. PEMBAHASAN

Berdarkan hasil praktikum mengenai system disperse, dilakukan pengujian volume sedimentasi  pada suspense Paracetamol dengan zat pensuspensi CMC dengan variasi konsentrasi yang berbeda dari setiap kelompoknya. Didalam literature hasil pengujian volume sedimentasi (F) untuk semua sediaan baik blanko CMC maupun Paracetamol + CMC dengan variasi konsentrasi berbeda untuk evaluasi stabilitas fisik suspense, dijelaskan bahwa volume sedimentsi harus ± 1, karena jika tidak sediaan suspensi yang dibuat akan tidak stabil.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah kelompok B3 lakukan nilai dari volume sedimentasi dari sediaan yang bersuspending agent CMC dapat terlihat dalam kurva perbandingan volume sedimentasi antara blanko CMC 3 % dan CMC 3,5 % dengan suspense Paracetamol + CMC 3 % dan Paracetamol + CMC 3,5 %.
7.1 Kurva hasil pengamatan dimana Y = F (Volume sedimentasi), dan X = Waktu


    Dari kurva diatas, sedimentasi pada blanko CMC 3% dan blanko CMC 3,5% terbentuk pada pengamatan 60 menit dengan volume sedimentasi (F) sebesar 0,99. Setelah diamati selama 45 jam, volume sedimentasi tidak mengalami perubahan tetap pada 0,99.   Sedangkan pada suspense paracetamol + CMC 3 % dan suspense paracetamol + CMC 3,5% sedimentasi terbentuk pada pengamatan ke 30 menit dengan nilai yang sama sebesar 0,99. Namun, pada pengamatan selama 36 menit volume sedimentasi suspense paracetamol+CMC 3% berubah menjadi 0,98 tapi untuk suspense paracetamol + CMC 3,5% volume sedimentasi dimenit ke 38 belum ada perubahan. Akan tetapi, setelah kedua suspense diamati, volume sedimentasi (F) menunjukan nilai yang sama yakni sebesar 0,99.
Setelah keempat sediaan didiamkan selama 45 jam, kemudian dilakukan uji redispersibilitas dengan melakukan pengocokan sebanyak tiga kali. Setelah didiamkan kembali ternyata sedimen yang terbentuk dari keempat sediaan tersebut tidak membentuk cake dan mudah terdispersi kembali membentuk campuran homogennya. Selain itu, blanko CMC 3% dan blanko CMC 3,5%  ataupun suspense paracetamol + CMC 3% dan suspense paracetamol + CMC 3,5% menunjukan nilai F mendekati sama dengan 1. Artinya suspense paracetamol dengan konsentrasi CMC 3% dan suspense paracetamol dengan konstrasi  CMC 3,5% merupakan suspense yang baik (stabil).

7.2 Kurva Perbandingan Blanko CMC sebagai Zat Pensuspensi dengan berbagai variasi konsentrasi dari setiap kelompok.



7.3 Kurva Perbandingan Suspensi Paracetamol dengan Zat Pensuspensi CMC dalam variasi konsentrasi yang berbeda dari setiap kelompok.


Dari kurva dapat dilihat bahwa CMC merupakan salah satu zat pensuspensi yang baik, karena nilai volume sedimentasi dari semua konsentrasi mendekati sama dengan satu. Dari semua variasi konsentrasi CMC, suspense yang paling stabil terlihat pada blanko CMC 3,5 % dan PCT + CMC 3,5 %. Dimana setelah pengamatan selama 45 jam volume sedimentasi lebih baik (stabil) karena mendekati sama dengan 1.
Blanko CMC 3,5% dan Suspensi PCT + CMC 3,5% menjadi suspensi yang cukup baik diantara variasi konsentrasi yang di ujikan, hal ini disebabkan kadar konsentrasi pensuspensi yang lebih tinggi dibanding variasi konsentrasi lainnya. Walaupun begitu dalam literatur dijelaskan produk akan terlihat buruk jika F, volume sedimentasi tidak mendekati samadengan satu. Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum system disperse, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :




Penetapan Kadar Vitamin B1 (Tablet) secara Argentometri

Penetapan Kadar Tablet Vitamin B1 Secara Argentometri
PENETAPAN KADAR TABLET VITAMIN B1  SECARA ARGENTOMETRI
Laporan Praktikum Kimia Farmasi II







D-3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU CIUMBULEUIT
BANDUNG
I. PENDAHULUAN
1. Tujuan Praktikum
    Mengetahui normalitas AgNO3 dari hasil pembakuan menggunakan larutan NaCl 0,1 N.
    Mengetahui normalitas NH4SCN dari hasil pembakuan menggunakan larutan AgNO3.
    Menetapkan kadar Vitamin B1 dalam sediaan tablet dengan menggunakan pripsip reaksi pengendapan.
2. Prinsip Praktikum
    Prinsip pada percobaan argentometri adalah berdasarkan pada reaksi pengendapan zat yang dianalisa dengan larutan baku AgNO3 sebagai penitrasi dengan menggunakan metode Mohr dan metode Volhard.
    Prinsip percobaan pertama menggunakan Metode Mohr (pembentukan endapan berwarna) yang digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan K2CrO4 sebagai indikator. Reaksi yang terjadi antara larutan AgNO3 dan NaCl :
Ag(NO3)(aq)  +  NaCl(aq)            AgCl(s) (endapan putih) + NaNO3(aq)
Reaksi yang terjadi antara larutan AgNO3 dengan Indikator kromat.
2AgNO3 + CrO4         Ag2CrO4 (endapan merah bata) + 2NO3
    Prinsip percobaan kedua menggunakan metode volhard. Metode ini didasarkan atas pembentukan merah tiosianat dalam suasana asam nitrat , dengan ion besi (III) sebagai indikator untuk mengetahui adanya ion tiosianat berlebih. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :       Fe3+  +  SCN-  ↔ Fe (SCN)3 (merah)

1.3 Dasar Teori
Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi atgentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indicator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan (Underwood,1992).
Argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan kadar halogenida dan senyawa-senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Metode argentometri disebut juga dengan metode pengendapan karena pada argentometri memerlukan pembentukan senyawa yang relatif tidak larut atau endapan. Reaksi yang mendasari argentometri adalah : AgNO3 + Cl-    AgCl(s) + NO3-
1. Metode Mohr (pembentukan endapan berwarna)
Metode Mohr dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan K2CrO4 sebagai indikator. Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis, pH 6,5 – 9,0. Dalam suasana asam, perak kromat larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak hidroksida. Reaksi yang terjadi adalah :
Asam : 2CrO42- + 2H+ ↔ CrO + H2O
Basa : 2 Ag+ + 2 OH- ↔ 2 AgOH 2AgOH ↔ Ag2O + H2O
2. 2. Metode volhard
Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl+, Br -, dan I- dengan penambahan larutan standar AgNO3. Indikator yang dipakai adalah Fe3+ dengan titran NH4CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan AgNO3 dititrasi dengan larutan standar KCNS, sedangkan indikator yang digunakan adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan KCNS akan diikat oleh ion Fe3+ membentuk warna merah darah dari FeSCN.
Konsentrasi ion klorida, iodide, bromide dan yang lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan larutan standar perak nitrat. Larutan perak nitrat ditambahkan secara berlebih kepada larutan analit dan kemudian kelebihan konsentrasi Ag+ dititrasi dengan menggunakan larutan standar (SCN-) dengan menggunakan indicator ion Fe3+. Ion besi (III) ini akan bereaksi  dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah.
Reaksi yang terjadi adalah :
Ag+(aq) + Cl-(aq)      AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + SCN-(aq)      AgSCN(s) (endapan putih)
Fe3+(aq) + 6SCN-(aq)  [Fe(SCN)6]3-  (kompleks berwarna merah)
3. Motode Fajans (Indikator Absorbsi)
Titrasi argenometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada cara Mohr, hanya terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan. Indikator yang digunakan dalam cara ini adalah indikator absorbsi seperti cosine atau fluonescein menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+.
Titrannya adalah AgNO3 hingga suspensi violet menjadi merah. pH tergantung pada macam anion dan indikator yang dipakai. Indikator absorbsi adalah zat yang dapat diserap oleh permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH. Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl- berada dalam lapisan primer dan setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO3 menyebabkan ion Cl- akan digantikan oleh Ag+ sehingga ion Cl- akan berada pada lapisan sekunder. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :
AgNO3(aq) + NaCl(aq)  AgCl(s) + NaNO3(aq)

    Tiamin Hidroklorida (Thiamini Hydrochloridum) atau vitamin B1
Rumus Molekul        : C12H17ClN4OS.HCl
Berat Molekul         : 337,27
Pemerian         : hablur kecil atau serbuk hablur, putih, bau khas lemah mirip ragi, rasa pahit. Kelarutan     : mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%), praktis tidak larut dalam eter dan dalam benzen, larut dalam gliserol. Keasaman kebasaan pH larutan 1% b/v, 2,7-3,4.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Vitamin B1, juga dikenal sebagai thiamin, adalah anggota dari vitamin B kompleks dan seperti semua dari mereka larut dalam air. Ini pertama kali diidentifikasi oleh dua dokter, Jansen dan Donath, jalan kembali pada tahun 1926 dan mereka menemukannya dalam residu tertinggal ketika alam gandum beras dipoles untuk membuatnya menjadi beras putih.
Makan makanan kaya vitamin C seperti buah-buahan dan sayuran pada saat yang sama sebagai sumber B1 dapat meningkatkan penyerapan dan seperti kebanyakan B1 vitamin B yang terbaik bila dikombinasikan dengan anggota lain dari grup.
Gejala awal kekurangan bahkan mungkin sedikit kelelahan, mual, kurang nafsu makan, gangguan pencernaan, kelemahan otot, kehilangan memori, kurang konsentrasi, depresi dan mudah tersinggung. Jika kekurangan tersebut tidak diperbaiki dengan suplemen atau perbaikan diet, sembelit, betis nyeri, kesemutan, rasa panas pada kaki dan kelemahan umum akan mengikuti.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan dalam titrasi pengendapan, diantaranya :
1)      Suhu.
2)      Sifat Pelarut.
3)      Ion Sejenis.
4)      Aktivitas Ion.
5)      pH.
6)      Hidrolisis.
7)      Hidroksida Logam.
8)      Pembentukan Senyawa Kompleks.





II. METODE
2.1 Alat yang digunakan
Nama Alat    Gambar    Nama Alat    Gambar
    Buret
    Statif
    Klep Penjepit         7. Pipet tetes dan kertas saring   
 
    Gelas ukur         8. Pipet volume   
    Gelas beaker         9. Corong kaca   
    Erlenmeyer         10. Labu Takar   

2.2 Bahan yang Digunakan
1. Larutan AgNO3 0,1 N        2. Indikator KCrO4         3. Indikator Fe3 Amm. Sulfat
4. Larutan NaCl 0,1 N            5. Larutan NH4CNS        6. Larutan HNO3 50%
7. Larutan HNO3 6 N            8. Tablet Vitamin B1         9. Aquadest.
2.3 Prosedur Kerja
1. Pembakuan Larutan AgNO3 0,1 N dengan menggunakan Larutan NaCl 0,1 N




2. Pembakuan Larutan NH4SCN dengan Menggunakan Larutan AgNO3




3. Penetapan kadar Vitamin B1 Tablet









2.4 Pembuatan Reagen
1. Pembuatan larutan NaCl 0,1 N
Tiap 1000 ml, mengandung 5,844 gram NaCl 0,1 N. Maka untuk membuat larutan NaCl 0,1 N sebanyak 50 ml diperlukan NaCl  : (50 ml)/(1000 ml) x 5,844 gram = 0,2922 gram/50 ml  292,2 mg.




2. Pembuatan Larutan AgNO3 0,1 N
Tiap 1000 ml, mengandung 16, 99 gram AgNO3 0,1 N.




3. Pembuatan Larutan NH4CNS 0,1 N
BE = Bm/V = (76,12 )/1 = 76, 16
0,1 N = gram/BE x (1000 )/V       0,1 N = gram/76,12  x 1000/(1000 ml) = 7,612 gram/1000 ml




4. Pembuatan Indikator KCrO4



5. Pembuatan Indikator Besi (III) Ammonium Sulfat
Untuk membuat 100 ml Indikator besi (III) Amm. Sulfat dibutuhkan 8,0 gram Besi (III) Amm. Sulfat.  Maka untuk membuat 500 ml Indikator Besi (III) Amm. Sulfat diperlukan 40,0 gram.



6. Pembuatan HNO3 50%
Untuk membuat HNO3 50% sebanyak 100 ml dibutuhkan 50 ml HNO3 50%



7. Pembuatan HNO3 6 N
Untuk membuat HNO3 6 dibutuhkan 81,6 mlHNO3 pekat untuk 200 ml.




III. DATA PENGAMATAN
3.1 Data Keseragaman Bobot Tablet Vitamin B1
No    Bobot Tablet        No    Bobot Tablet
1.    128,9 mg        11    127,9 mg
2    130,2 mg        12    128,1 mg
3    120,0 mg        13    126,8 mg
4    118,8 mg        14    130,3 mg
5    121,7 mg        15    132,1 mg
6    121,3 mg        16    126,5 mg
7    125,1 mg        17    125,9 mg
8    125,1 mg        18    129,5 mg
9    128,4 mg        19    128,3 mg
10    126,5 mg        20    130,3 mg

Bobot rata – rata tablet vitamin B1 = 2527,5/20 = 126,375 mg
Bobot sampel tablet vitamin B1 = (Rata-rata bobot tablet)/(berat isi /tablet) x Berat tablet vitamin B1 menurut FI
    = (126,375 mg)/(50 mg) x 100 mg = 252,75 mg


3.2  Data Penimbangan
Kertas     NH4SCN    AgNO3    Sampel I    Sampel II
Kertas kosong    -    -    97,7 mg    105,8 mg
Kertas + Isi    -    -    350,55 mg    359,15 mg
Kertas + Sisa    -    -    97,6 mg    106,3 mg
Bobot Sampel    16,99 gram    7,612 gram    252,95 mg    292,85 mg

3.3 Data Pembakuan AgNO3 0,1 N dengan NaCl 0,1 N
Replikasi    Bobot Penimbangan    Volume Titran
I    10,0 ml    10,4 ml
2    10,0 ml    9,8 ml

3.4 Data Pembakuan Larutan NH4SCN 0,1 N dengan AgNO3 yang telah dibakukan.
Replikasi    Bobot Penimbangan    Volume Titran
I    10,0 ml    10,0 ml
2    10,0 ml    10,1 ml

3.5 Data Penetapan Kadar Tablet Vitamin B1.
Replikasi    Bobot Penimbangan    Volume Titran
I    252,95 mg    4,9  ml
2    252,85 mg    4,3 ml


IV. PERHITUNGAN – PERHITUNGAN

4.1 Perhitungan Pembakuan AgNO3 0,1 N









4.2 Perhitungan Pembakuan NH4SCN 0,1 N










    4.3 Perhitungan Kadar Tablet Vitamin B1

























V. PEMBAHASAN

4.1 Pembakuan Larutan AgNO3 dengan Larutan NaCl 0,1N.
    Dalam praktikum penetapan kadar tablet vitamin B1 yang telah dilakukan, menggunakan titrasi argentometri metode Mohr untuk pembakuan AgNO3 menggunakan larutan baku NaCl. Metode Mohr ini dapat dilakukan dengan mempipet 10,0 ml NaCl yang ditambahkan dengan indikator Kalium Kromat dan dititrasi dengan larutan baku sekunder AgNO3 sampai terbentuk endapan merah.
    Penggunaan indikator kalium kromat berhubungan langsung dengan sifat kalium kromat yaitu indikator ini dibuat dengan kadar 5% (5 gr kalium kromat dalam 100 ml air) dan digunakan pada titrasi dengna metode Mohr. Indikator ini digunakan pada titrasi ion klorida pada suasana yang larutannya netral, dan pada waktu titik akhir tercapai akan memberikan endapan merah dari Ag2CrO4. Peristiwa ini merupakan suatu pengendapan bertingkat dari sepasang garam yang sedikit larut.
    Dalam titrasi metode Mohr akan terbentuk endapan AgCl sebagai dasar reaksi kimia dari titrasi ini. Endapan tersebut menandai titik akhir titrasi dengan bantuan indikator Kalium Kromat dan diperoleh normalitas rata-rata AgNO3 sebesar 0,0995 N. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut : AgNO3 + NaCl  ↓ AgCl

4.2 Pembakuan Larutan NH4SCN 0,1 N dengan AgNO3.
    Untuk pembakuaan larutan NH4SCN 0,1 N, metode yang dipakai untuk pembakuan Ammonium tiosianat ini adalah metode valhard. Yaitu digunakannya indikator Besi (III) Amm. Sulfat. Proses pembakuan NH4SCN dengan AgNO3 bertujuan untuk menentukkan normalitas  dari NH4SCN. Prosedur kerja yang dilakukan sama halnya dengan pembakuan AgNO3. Sebelum di titrasi larutan AgNO3 ditambah HNO3 6 N 5 mL dan indikator besi(III) ammonium sulfat sebanyak 1 mL.
Fungsi penambahan HNO3 disini ialah untuk menciptakan suasana asam, karena untuk titrasi metode valhard harus dilakukan dalam suasana asam, sebab ion besi(III) akan diendapkan menjadi Fe(OH)3 jika suasananya basa, sehingga titik akhirnya tidak dapat ditunjukkan karena pH larutan harus dibawah 3. Sedangkan indikator yang digunakan adalah ion Fe3+ karena kelebihan larutan NH4SCN akan diikat oleh ion Fe3+ membentuk warna merah darah dari FeSCN. Sebelum dititrasi larutan berwarna keruh. Pada awal penetesan NH4SCN, terjadi reaksi yang menimbulkan endapan AgCNS yang berwarna putih dengan persamaan reaksi :  NH4CNS(aq) + AgNO3(aq)   AgCNS(s)  +  NH4NO3(aq)
AgCNS yang dihasilkan berupa endapan putih, tetapi larutan masih bening. Setelah Ag+ dalam AgNO3 habis bereaksi maka sedikit kelebihan NH4CNS dalam sistem akan menyebabkan ion CNS- bereaksi dengan Fe3+ dari besi (III) ammonium sulfat membentuk [Fe(CNS)6]3- dengan reaksi :  Fe3+ + 6 CNS  [Fe(CNS)6]3-
Setelah terjadi perubahan warna kompleks Fe(CNS)63- yang memberikan warna merah bata, maka titrasi segera dihentikan. Pada percobaan,diperoleh rata-rata normalitas NH4SCN sebesar 0,0985 N.
4.3  Penetapan Kadar Tablet Vitamin B1
Penetapan kadar vitamin B1 dilakukan sebanyak dua kali replikasi. Pelarut yang digunakan adalah air, karena sifat vitamin B1 yang mudah larut dalam air. Titran yang digunakan adalah NH4SCN 0,1 N secara berlebih menggunakan indicator Besi (III) amm. Sulfat. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :
Cl- + Ag+ ( berlebihan )        AgCl
Kelebihan ion perak dititrasi kembali dengan tiosianat :
Ag+ + SCN -         AgSCN
Penggunaan indicator :
Fe3+ + SCN -        (FeSCN)2+
Penetapan kadar vitamin B1 dengan metode Volhard harus dilakukan dalam suasana asam. Hal tersebut dilakukan jika suasananya basa maka akan terjadi reaksi antara perak nitrat dengan basa membentuk Ag ( OH ) yang pada tahap selanjutnya akan membentuk endapan putih Ag2O akibatnya perak nitrat tidak hanya bereaksi dengan sampel tetapi juga dengan basa.
Pemilihan indikator Fe ( III ) amonium sulfat berkaitan langsung dengan sifat indikator ini yang merupakan larutan jenuh ( kurang lebih 40 % ) ferri amonium sulfat dalam air dan ditambah beberapa tetes asam nitrat. Indikator ini digunakan dalam metode Volhard. Ferri amonium sulfat akan membentuk warna merah dari kompleks Fe ( III ) tiosianat dalam lingkungan asam nitrat 0,5 – 1,5 N. Perubahan warna terjadi 0,7 – 1 % sebelum titik akhir dalam titrasi ini.
Dari hasil penetapan kadar tablet vitamin B1 secara argentometri yang dilakukan sebanyak dua kali replikasi diperoleh kadar rata-rata tablet vitamin B1 sebesar 91,3885 %.












VI. KESIMPULAN

    Normalitas rata-rata AgNO3 yang diperoleh dari hasil pembakuan dengan larutan NaCl 0,1 N sebesar 0,0995 N.
    Normalitas rata-rata NH4SCN yang diperoleh dari hasil pembakuan dengan larutan AgNO3 sebesar 0,0985 N.
    Kadar rata-rata sampel tablet vitamin B1 yang dilakukan secara argentometri sebesar 91,3885%.


VII. DAFTAR PUSTAKA

Melalui media online yang diakses pada Selasa, 12 Maret 2013. :
http://id.scribd.com/doc/72873312/Argentometri
http://ellavioletta.blogspot.com/2012/12/laporan-resmi-argentometri-kimia_9550.html
http://sintas-shinta.blogspot.com/2012/04/titrasi-argentometri_1614.html
http://hellomyinterest.blogspot.com/2012/12/titrasi-argentometri-metode-volhard.html
Modul Praktikum Kimia Farmasi II. Poltekes TNI AU Bandung.2013.




LAMPIRAN - LAMPIRAN
    Gambar hasil titrasi pembakuan Larutan AgNO3

             




       


    Gambar Hasil titrasi Pembakuan Larutan NH4SCN

    Gambar Hasil Titrasi Penetapan Kadar Tablet Vitamin B1.
          

Laporan Fisika Farmasi RHEOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI
REOLOGI
Senin, 25 February 2013



1.    TUJUAN PRAKTIKUM

    Menentukan viskositas emulsicampuran antara paraffin dan CMC dengan menggunakan metode viscometer Brookfield synchroelektrik dan metode bola jatuh.

2.    PRINSIP PERCOBAAN

    Berdasarkan pada penghambatan aliran cairan oleh sifat kekentalan (Viskositas) yang dimiliki cairan, dimana cairan yang memiliki kekentalan yang berbeda, maka kaan memiliki resistensi alir yang berbeda pula.

3.    DASAR TEORI
Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat  cair  untuk  mengalir  semakin  besar  pula  viskositasnya.  Rheologi  adalah  ilmu  yang mempelajari sifat aliran zat cair atau deformasi zat padat. Viskositas mula-mula diselidiki oleh Newton, yaitu dengan mensimulasikan zat cair dalam bentuk tumpukan kartu seperti pada gambar berikut :
Zat cair diasumsikan terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain.Lapisan terbawah tetap diam, sedangkan lapisan di atasnya bergerak dengan kecepatankonstan,sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding langsung denganjaraknya terhadap lapisan terbawah yang tetap. Perbedaan kecepatan dv antara dua lapisan yangdipisahkan dengan jarak dx adalah dv/dx atau kecepatan geser (rate of share). Sedangkan gayasatuan luas yang dibutuhkan untuk mengalirkanzat cair tersebut adalah F/A atau tekanan geser (shearing stress)
Menurut Newton :
F/A     =  dv/dx
F/A     = ηdv/dx
η          =  F/Adv/dx
η          = koefisien viskositas, satuan Poise
Viskositas suatu zat dipengaruhi oleh suhu. Viskositas gas meningkat dengan bertambah tingginya suhu, sedangkan viskositas zat cair menurun denganmeningginya suhu. Hubungan antara viskositas dengan suhu tampak pada persamaan Arrhenius :
A         : konstanta yang tergantung pada berat molekul dan volume molar zat cair
Ev        : energi aktivasi
R         : konstanta gas
T          : suhu mutlak
Hampir seluruh sistem dispersi termasuk sediaan-sediaan farmasi yang berbentuk emulsi,suspense, dan sediaan setengah padat tidak mengikuti hukum Newton. Viskosita cairan semacamini bervariasi pada setiap kecepatan geser, sehingga untuk mengetahui sifat alirannya dilakukan pengukuran pada beberapa kecepatan geser. Untuk menentukan viskositasnya diper-gunakan viscometer rotasi Stormer.          
Berdasarkan grafik sifat alirannya (rheogram), cairan non Newton terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
1. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu.Kelompok ini terbagi atas tiga jenis, yakni :
a) Aliran plastik
b) Aliran pseudoplastik
c) Aliran dilatan
2. Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi oleh waktu.
Kelompok ini terbagi atas tiga jenis, yakni :
a) Tiksotropik
b) Antitiksotropik
c) Rheopeksi
Peralatan yang digunakan untuk mengukur viskositas dan rheologi suatu zat cair disebut viskometer. Ada dua jenis viskometer, yaitu :


1.      Viskosimeter Satu Titik
Viskosimeter ini bekerja pada titik kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu titik pada rheogram. Ekstrapolasi dari titik tersebut ke titik nol akan menghasilkan garislurus. Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan viskositas cairan Newton.Yang termasuk dalam jenis ini misalnya viskosimeter kapiler, bola jatuh, penetrometer, plastometer ,dll.
2.      Viskosimeter Banyak Titik
Dengan viskosimeter ini dapat dilakukan pengukuran pada beberapa harga kecepatangeser sehingga diperoleh rheogram yang sempurna. Viskosimeter jenis ini dapat jugadigunakan baik untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton maupun nonNewton. Yang termasuk ke dalam jenis viskosimeter ini adalah viskosimeter rotasi tipe Stormer, Brookfield, Rotovico, dll.
Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser. Oleh karena itu, vis-kositanya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. Viskometer yang dapat dipergunakan untuk keperluan itu adalah viskometer kapiler atau bola jatuh.  Apabila digambarkan antara kecepatan geser terhadap tekanan geser, maka diperoleh grafik garis lurus melalui titik nol. Contoh cairan Newton adalah minyak jarak, kloroform, gliserin, minyak zaitun, dan air.
Viskometer  bola  jatuh  merupakan  viskosimeter  satu  titik  yang  digunakan  untuk menentukan viskosita cairan newton. Viskosimeter ini bekerja pada satu titik kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu titik pada rheogram. Pada viskometer ini sampel  dan  bola  diletakkan  dalam  tabung   gelas  dan  dibiarkan  mencapai  temperatur keseimbangan dengan air yang berada dalam jaket di sekelilingnya pada temperatur konstan. Tabung dan jaket air tersebut kemudian dibalik, yang akan menyebabkan bola berada padapuncak tabung gelas dalam. Waktu bagi bola tersebut untuk jatuh antara dua tanda diukur dengan teliti dan diulangi beberapa kali.
Prinsip kerja dari  viskometer bola jatuh adalah mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap. Viskometer Hoeppler, merupakan alat yang ada dalam perdagangan berdasarkan pada prinsip ini.  Pada viskosimeter Hoeppler tabungnya dipasang miring sehingga kecepatan bola jatuh akan berkurang sehingga pengukuran dapat dilakukan lebih teliti. Viskometer ini cocok digunakan untuk cairan yang mempunyai viskositas yang sukar diukur dengan viskosimeter kapiler.
Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut (Moechtar,1990).
4. BAHAN DAN ALAT
4.1 Bahan yang digunakan

1.    CMC Na 0,25% dan CMC Na 1 %
2.    Castor Oil
3.    Parafin Liquid
4.    Vaselin Album
5.    PVP 1 %
6.    Aquadest Panas
7.    Air
8.    Alcohol
4.2 Alat yang digunakan
Nama Alat    Gambar Alat        Nama Alat    Gambar
Mortir dan Stamper             Viskometer Brookfield   
Kelereng             Stopwach   
Gelas Ukur             Viskometer Ostwald   
Spatula Logam             Piknometer   
Gelas Beaker             Pipet tetes   


5. PROSEDUR KERJA
a. Membuat Larutan Uji




a. Mengukur viskositas paraffin liquidum dengan metode bola jatuh









b. Mengukur viskositas emulsi (Na CMC, PVP,  Paraffin dan Vaselin Album) dengan metode Brookfield
•    Na CMC dan PVP












•    Paraffin dan Vaselin Album









•    Mengukur Waktu dengan metode Viscometer Ostwald
a.    Menentukan bobot jenis :
1. timbang piknometer kosong (a)
2. isi piknometer kosong dengan air, lalu ditimbang (b)
3. hitung bobot air (b-a)
4. lakukan hal yang sama dari no. 1 sampai 3 untuk piknometer dengan cairan sampel (alkohol)
5. catat hasilnya
b.    Menentukan viskositas :







6. DATA PENGAMATAN
1. Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Metode Bola Jatuh pada  zat  Parafin Liquid.
Berat Kelereng    Volume Awal (Vo)    Volume Akhir (Vt)    Selisih Volume    Waktu
5,74 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:80 dt
5,32 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:48 dt
5,74 gr    30,0 ml    33,0 ml    3,0 ml    00:44 dt
Rata - rata    3,0 ml    00 : 57 dt

2.  Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Brookfield
Zat    Spindel    Kecepatan    Volome    Skala    Koefisien    Viskositas
CMC Na 0,25%    62    6 rpm    300 ml    2    50    100 cP
CMC Na 1%    62    6 rpm    150 ml    10    50    500 cP
PVP 1%    62    6 rpm    150 ml    4    50    200 cP
Paravin    61    6 rpm    250 ml    2    10    20 cP
Vaselin Album    64    6 rpm    150 ml    22    1000    22000 cP

3. Tabel Data Pengukuran Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Ostwald
Sampel    Kerapatan Partikel    Waktu    Viskositas
Air    0,366 gr/ ml    05:00 dt    1,83 cP
alkohol    0,3405 gr/ ml    05:04 dt    1.71 cP


7.  PERHITUNGAN
A. Pembuatan Larutan Uji














B.   Perhitungan Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Brookfield












C. Perhitungan Viskositas dengan Menggunakan Viskometer Ostwald





















D. Perhitungan Viskositas






8.  PEMBAHASAN
Pada praktikum Reologi kali ini, pertama dilakukan percobaan mengenai viskositas dari larutan Parafin dengan volume awal dari semua kelompok sama yakni 30,0 mL. Percobaan ini menggunakan alat viskometer bola jatuh yakni menggunakan kelereng. Viskometer ini digunakan untuk cairan yang mengikuti hukum Newton yaitu viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak bergantung pada kecepatan geser.  Berikut tabel hasil metode bola jatuh dari setiap kelompok :
Kelompok    Rata – rata Selisih Volume    Rata – rata Waktu
B2    2,6 mL    00 : 48 dt
B3    3,0 mL    00 :57 dt
B5    2,6 mL    00 : 25 dt
Rata – rata keseluruhan kelompok    2,7 mL    00 : 43 dt

Berdasarkan data yang diperoleh dari setiap kelompok sebanyak masing – masing kelompok melakukan tiga kali pengulangan diperoleh rata-rata keseluruhan selisih hasil volume akhir yakni sebesar  2,7 mL dan waktu rata – ratanya 00 : 43 detik.
Kemudian prosedur kedua dilakukan pengukuran viskositas dengan menggunakan metode Brookfield terhadat beberapa zat. Berikut grafik perbandingan nilai viskositas yang diperoleh berdasarkan percobaan yang kami lakukan:
Tabel hasil nilai viskositas masing – masing zat dari seitap kelompok
Zat    Nilai viskositas masing – masing kelompok    Rata – rata
Viskositas
    B2    B3    B5   
CMC Na 0,25%    300 cP    100 cP    500 cP    300 cP
CMC Na 1 %    500 cP    500 cP    875cP    625 cP
PVP 1 %    200 cP    200 cP    550 cP    316 cP
Parafin    150 cP    20 cP    40 cP    70 cP
Vaselin Album    22000 cP    22000 cP    22000 cP    22000 cP

    Berdasarkan perbandingan nilai viskositas pada tabel dan grafik diatas, dapat diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi viskositas suatu cairan atau larutan. Yang pertama yakni pengaruh kecepatan (rpm), dimana semakin tinggi nilai rpm maka nilai viskositasnya semakin besar. Namun pada percobaan ini, setiap kelompok memilih kecepatan yang sama untuk semua zat yakni 6 rpm. Yang kedua yakni, pengaruh spindel terhadap kecepatan putar. Semakin besar spindle yang digunakan, maka nilai viskositasnya pun akan semakin besar hal tersebut terlihat dari hasil rata-rata nilai viskositas semua kelompok dari vaselin album yang menggunakan spindle 64 yakni 22000 cP, hasil ini jauh lebih besar dibanding dengan rata-rata nilai viskositas CMC Na 0,25 % sebesar 300 cP , CMC Na 1 % sebesar 625 cP , PVP 1 % sebesar 316 cP, dimana ketiga zat tersebut menggunakan spindle 62, sedangkan nilai rata-rata viskositas Parafin liquid yang menggunakan spindle 61 nilai viskositasnya lebih kecil sebesar 70 cP.
    Percobaan berikutnya yakni mengukur viskositas menggunakan metode Oswald untuk membandingkan viskositas air dan alkohol. Pada Metode Ostwald yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri.
Berikut tabel hasil pengukuran viskositas menggunakan metode Ostwald dari seluruh kelompok:
Pengukuran    Air    Rata-rata
    B2    B3    B5   
Kerapatan    0,397 gr/mL    0,366 gr/mL    0,279 gr/mL    0,347 gr/mL
Waktu    05:71 dt    05:00 dt    06:19 dt    05 : 63 dt
Viskositas    2,268 cP    1,83 cP    1,72 cP    1,93 cP

Pengukuran    Alkohol    Rata-rata
    B2    B3    B5   
Kerapatan    0,396 gr/ml    0,3405 gr/mL    0,281 gr/mL    0,339 gr/ mL
Waktu    05:67 dt    05:04 dt    05:00 dt    05:23 dt
Viskositas    2,08 cP    1,71 cP    1,40 cP    1,73 cP

    Dari nilai rata – rata data tabel diatas yang diperoleh dari semua kelompok, diketahui bahwa  nilai rata- rata kerapatan  air sebesar 0,347 gr/mL dan  nilai rata-rata kerapatan alcohol  sebesar 0,339 gr/mL. Kerapatan rata – rata air dan alkohol menunjukan bahwa nilai kerapatan air lebih besar apabila dibandingkan dengan kerapatan alcohol. hal itu karena, massa air lebih besar daripada massa alcohol.
    Selain itu, hasil perhitungan kerapatan yang dilakukan dapat membuktikan bahwa semakin banyak waktu yang diperlukan oleh suatu cairan untuk mengalir, maka viskositas cairan tersebut semakin besar  pula. Terlihat dari hasil rata-rata viskositas air  pada tabel yakni 1,93 cP dengan rata – rata waktu 05 : 63 detik sedangkan alcohol nilai rata-rata viskositasnya sebesar 1,73 cP dengan  rata-rata waktu 05:23 detik. Hasil tersebut menunjukan bahwa waktu yang diperlukan oleh suatu cairan untuk mengalir sebanding atau berbanding lurus dengan viskositasnya.

9.    KESIMPULAN
    Selisih volume paraffin liquid  yang didapatkan dengan  menggunakan metode bola jatuh menghasilkan rata-rata selisih volume 3,0 mL dengan rata-rata waktu 00:57 detik.
    Rata-rata selisih volume paraffin dari semua kelompok, sebesar  2,7 mL dan waktu  rata – ratanya 00 : 43 detik.
    Nilai viskositas CMC Na 0,25% sebesar 100 cP, dan nilai rata-rata viskositas CMC Na 0,25% dari setiap kelompok sebesar 300 cP
    Nilai viskositas CMC Na 1% sebesar 500 cP, dan nilai rata-rata viskositas CMC Na 1% dari setiap kelompok sebesar 625 cP.
    Nilai viskositas PVP 1% sebesar 316 cP, dan nilai rata-rata viskositas PVP 1% dari setiap kelompok sebesar 316 cP.
    Nilai viskositas Paravin sebesar 20 cP, dan nilai rata-rata viskositas Paravin dari setiap kelompok sebesar 70 cP.
    Nilai rata-rata viskositas Vaselin Album sebesar 22000 cP.
     Nilai viskositas air sebesar 1,83 cP dengan waktu 5,0 dt, dan nilai viskositas rata-rata dari setiap kelompok yakni 1,93 cP dengan rata – rata waktu 05 : 63 detik
    Nilai viskositas alcohol sebesar 1,71 cP dengan waktu 5,4 dt, dan nilai viskositas rata-rata dari setiap kelompok yakni sebesar 1,73 cP dengan  rata-rata waktu 05:23 detik.   

10.    DAFTAR PUSTAKA
1.    http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-fisika-viskositas-zat-cair.html
2.    http://duniaanalitika.wordpress.com/2009/12/16/tehnik-penngukuran-viskositas/
3.    http://wenimandasari.blogspot.com/p/laporan-termokimia.html
4.    http://linus-seta.blogspot.com/2011/11/penentuan-viskositas-larutan-newton.html
5.    http://ogysogay.blogspot.com/2011/06/laporan-viskositas-dan-rheology.html
6.    Modul Praktikum Fisika Farmasi. 2013. Poltekes TNI AU Bandung.





Praktikum Fisika Farmasi MIKROMERITIKA


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIKA FARMASI
MIKROMERITIKA
Senin, 18 February 2013





















D3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU
BANDUNG
2013
    Tujuan Praktikum
1. Menentukan kerapatan partikel dengan piknometer.
2. Menentukan kecepatan aliran dan sudut istirahat.
3. Menentukan kecepatan curah (ruah) dan sudut istirahat.  

     Dasar Teori


3.  Alat dan Bahan
3.1.Alat yang dipergunakan
No     Alat    Gambar
1     Piknometer 25 mL   
2    Corong Penguap   
3    Corong Gelas   
4    Flowtester   
5    Gelas Ukur   
6    Spatel Logam   
7    Pipet Tetes   
8    Penggaris   


4. Perhitungan - perhitungan
    Menentukan Kerapatan Partikel dengan Piknometer
    Bobot Piknometer    : 15,68 gram
    Bobot Piknometer dengan Parafin cair    : 36,57 gram
    Bobot Asam Oksalat    : 1 gram
    Bobot Piknometer dengan Parafin dan Asam Oksalat    : 36,89 gram/ml
    Bobot Solven    : 20,89 gram
    Kerapatan Partikel    : 0,0487 gram/ml

    Menentukan Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
1.  Amylum Manihot dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    θ
1    60:40 dt    5,3 cm    2,5 cm    0,4716    25,250
2    47:30 dt    5,0 cm    2,5 cm    0,5    26,560
Rata_rata    55:85 dt    5,15 cm    2,5 cm    0,4858    25,900

2. Amylum Manihot dengan Corong Gelas
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    53:40 dt    4,3 cm    2,8 cm    0,6511    33,06o
2    60:13 dt    4,5 cm    2,4 cm    0,5333    28,07o
Rata-rata    56:76 dt    4,4 cm    2,6 cm    0,5920    30,560

3. Granul CTM dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    01,56 dt    4,6 cm    2,0 cm    0,4347    23,490
2    01,34 dt    4,2 cm    2,3 cm    0,5476    28,690
Rata-rata    01:45 dt    4,4 cm    2,15 cm    0,49115    26,090



4. Granul CTM dengan Corong Gelas
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:24 dt    3,9 cm    1,9 cm    0,4871    25,970
2    03:60 dt    3,45 cm    2,0 cm    0,5797    30,100
Rata-rata    03:42 dt    3,675 cm    1,95 cm    0,5334    28,030

5. Starch 1500 dengan Flowtester
Pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:24 menit    4,7 cm    2,5 cm    0,5319    28,000
2    04:02 menit    4,2 cm    2,4 cm    0,5714    29,740
Rata-rata    03:68 menit    4,45 cm    2,45 cm    0,5516    28,870

6. Starch 1500 dengan Corong Gelas
pengulangan    Waktu    Jari-jari    Tinggi    Tangen    
1    03:49 menit    4,35 cm    2,2 cm    0,5057    26,820
2    03:24 menit    4,45 cm    2,5 cm    0,5434    28,520
Rata-rata    03:36 menit    4,4 cm    2,35 cm    0,5245    27,670


    Menentukan Kecepatan Curah ( Ruah) dengan Kerapatan Mampat
1. Asam Oksalat
Jumlah Ketukan    Asam Oksalat I    Asam Oksalat II
    Volume    Kerapatan    Volume     Kerapatan
0    40 ml    0,6250 gr/ml    40    0,6250 gr/ml
3    39 ml    0,6410 gr/ml    38    0,6578 gr/ml
5    37 ml    0,6756 gr/ml    36    0,6944 gr/ml
10    36 ml    0,6944 gr/ml    34    0,7352 gr/ml
20    34 ml    0,7352 gr/ml    33    0,7575 gr/ml
30    33 ml    0,7575 gr/ml    30    0,8333 gr/ml
50    31 ml    0,8064 gr/ml    29    0,8620 gr/ml

2. Granul CTM
Jumlah Ketukan    Granul CTM I    Granul CTM II
    Volume    Kerapatan    Volume    Kerapatan
               
               
               
               
               
               
               
               


BAB V
ANALISIS DATA PENGAMATAN
    Menentukan Kerapatan Partikel dengan Piknometer
    Diketahui :
    Wo     =
    W1    =
    W2    = W1  Wo
    = 36,57 gram  15,68 gram = 20,89 gram
    W3    =
    W4    =
    Ditanyakan Kerapatan Partikel = …..?
    Jawab  :
    Kerapatan Partikel    = "W2 + W3" /"25 (W4 -W2+W3)"
        =   /   
        =  /
        =   /
        =  …… gr/ml

    Menentukan Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
1. Amylun Manihot dengan Flowtester











    Perhitungan Kecepatan Ruah (curah) dan Kerapatan Mampat
Kompresibilitas (%)  = ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
1. Asam Oksalat
I.     a. Kerapatan Longgar     =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =
II.    a. Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100

    2. Granul CTM
I.    a. Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =
II.    a Kerapatan Longgar    =
    b. Kerapatan Mampat    =
Kompresibilitas (%)    =  ("Kerapatan Mampat " - "Kerapatan Longgar" )/"Kerapatan Mampat"  x 100
    =




9. PEMBAHASAN
1. Kerapatan Partikel dengan Piknometer.
Tabel Hasil Kerapatan Partikel  Semua Kelompok B
Kelompok    Sampel    Kerapatan Partikel
B1    Acetosal    0,0336 gr/ml
B2    Asam Sitrat    0,0557 gr/ml
B3    Asam Oksalat    0,0491 gr/ml
B4    Asam Salisilat    0,0526 gr/ml
B5    Paracetamol    0,0443 gr/ml

        Kerapatan suatu zat merupakan perbandingan massa dan volume zat itu, sehingga nilai kerapatan dapat diukur melalui pengukuran massa dan volumenya. Namun, nilai kerapatan tidak bergantung pada massa zat maupun volumenya. Kerapatan zat, kecil perubahannya terhadap perubahan suhu. Tepung, pasir, kapur, semen, dan sebagainya kurang akurat jika kerapatannya ditentukan dengan menimbang massa dan mengukur volume yang dibentuknya secara langsung. Karena kemungkinan ada celah-celah di antara butiran-butirannya yang ditempati udara. Pengukuran akan lebih akurat jika menggunakan piknometer.
    Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh semua kelompok, dengan sampel yang berbeda-beda didapat hasil kerapatan yang berbeda juga sesuai dengan sampel yang diperoleh. Nilai kerapatan partikel yang didapat akan lebih akurat apabila penimbangan dan prosedur yang dilakukan sesuai atau secara tepat.

2.  Kecepatan Aliran dan Sudut Istirahat
Tabel Hasil Percobaan Semua Kelompok B
Rata-rata Tan θ -1  Dengan Flowtester
Sampel    Kelompok
    B1    B2    B3    B4    B5
Granul CTM    17,20o    25,81o    26,09o    23,84o    20,545o
Starch 1500    37,73o    37,15o    28,87o    34,47o    40,605o
Amylum Manihot    -    25,455o    25,90o    25,81o    -
Asam Sitrat    22,65o    -    -    -    22,93o

Tabel Hasil Percobaan Semua Kelompok B
Rata-rata Tan θ -1  Dengan Corong Gelas
Sampel    Kelompok
    B1    B2    B3    B4    B5
Granul CTM    14,26o    25,435o    26,09o    23,625o    21,09o
Starch 1500    14,04o    28,8o    27,67o    37,205o    15,27o
Amylum Manihot    -    21,165o    30,56o    28,1o    -
Asam Sitrat    31,51o    -    -    -    20,42o


3. Kecepatan Curah (Ruah) dan Kerapatan Mampat

Tabel Hasil Kompresibilitas (%) Semua Kelompok B Sampel Granul CTM

Kelompok    Granul CTM
    I    II
B1    12,465%    10,224%
B2    12,8124%    12,4894%
B3    20,40%    20,50%
B4    55,8%    -
B5    14,26%    14,26%

Tabel Hasil Kompresibilitas (%) Semua Kelompok B Masing-masing Sampel

Kelompok    Sampel    Kompresibilitas
B1    Acetosal    I    9,954%
        II    6,614%
B2    Asam Sitrat    I    10,9615%
        II    10,3484%
B3    Asam Oksalat    I    22,49%
        II    27,49%
B4    Asam Salisilat    I    10,2 %
        II    -
B5    Paracetamol    I    47,75%
        II    30,92%





Penetapan Kadar Asam Salisilat Secara Alkalimetri

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT (C7H6O3) SECARA ALKALIMETRI
Tanggal Praktikum : Kamis, 21 February 2012
D-3 FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU CIUMBULEUIT BANDUNG
2013
Disusun Oleh :
Elda Damayanti
30511016
Dibawah Bimbingan :
Maida Safitri, S,Si., Apt
Tri Wahyuni, S. Farm
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 1
I. PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
a. Mampu menetapkan kadar asam salisilat (C7H6O3) secara alkalimetri.
b. Mampu membuat larutan asam oksalat (H2C2O4) sebagai larutan baku primer.
c. Mampu membuat larutan standar NaOH sebagai larutan baku sekunder serta menetapkan konsentrasi larutan standar NaOH dengan menggunakan larutan standar primer asam oksalat (H2C2O4).
2.2 Prinsip Praktikum
 Reaksi netralisasi asam lemah yaitu asam salisilat (C7H6O3) dengan Basa kuat (NaOH)
2.3 Teori Praktikum
Alkalimetri adalah analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan standar. Analisis anorganik secara kualitatif yaitu proses atau operasi analisis yang digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metode-metode pemisahan masing-masing penyusun yang terdpat dalam suatu campuran.
Dalam titrasi asam-basa, jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asam didefinisikan sebagai senyawa yang mengandung Hidrogen yang bereaksi dengan basa. Basa adalah senyawa yang mengandung ion OH- atau menghasilkan OH- ketika bereaksi dengan air. Basa bereaksi dengan asam untuk menghasilkan garam dan air. (Golberg, 2002)
Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. Pada saat tercapai titik ekivalen, penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen, walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 2
dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol, perbandingan mol, molaritas atau normalitas.
Analisis secara volumetric adalah analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kwantitatif dengan larutan dari suatu zat yang akan ditentukan konsentrasinya. Ada dua macam larutan baku dalam volumetri, yaitu :
a. Larutan baku primer adalah larutan dimana kadarnya diketahui secara langsung karena diperoleh dari hasil penimbangan. Pada umumnya kadara dapat dinyatakan dalam N (mol x ekuivalen / L) atau M (mol / L). Contoh larutan baku primer adalh asam oksalat, natrium oksalat.
b. Larutan baku sekunder adalah larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan dengan larutan baku primer atau dengan metode gravimetri yang tepat. Contoh NaOH (dibakukan dengan larutan primer asam oksalat).
Menurut Indigo Morie (2008), ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, yaitu :
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Asam salisilat (asam ortohidroksibenzoat) merupakan asam yang bersifat iritan lokal, yang dapat digunakan secara topikal. Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam organik. Di samping itu digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling dikenal asalah asam asetilsalisilat.
Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh asam salisilat adalah sebagai berikut:
1. Panas jika dihirup, di telan dan apabila terjadi kontak dengan kulit.
2. Iritasi pada mata
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 3
3. Iritasi pada sauran pernafasan
4. Iritasi pada kulit
Kegunaan Asam Salisilat
Ø Aspirin digunakan untuk obat sakit kepala
Ø Asam salisilat juga digunakan untuk anti jamur pada salep untuk
mengobati penyakit kulit
2.4. Uraian Bahan
1. Natrium hidroksida (Ditjen POM. 1979)
Nama resmi
:
NATRI HYDROXYDUM
Nama lain
:
Natrium Hidroksida
RM / BM
:
NaOH / 40,00
Pemerian
:
Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan menujukan susunan yang hablur; putih, mudah meleleh, basah, sangat akalis, dan korosif, segera menyerap CO2.
Kelarutan
:
Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%).
Kegunaan
:
Sebagai titran.
2. Asam salisilat (Ditjen POM. 1995)
Nama resmi
:
ACIDIUM SALICYLICUM
Nama lain
:
Asam Salisilat
RM / BM
:
C7H6O3 / 138,12
Pemerian
:
Hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur putih, rasa agak manis, tajam, dan stabil diudara.
Kelarutan
:
Larut dalam etanol dan eter, sukar larut dalam air
Kegunaan
:
Sebagai sampel
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 4
Etanol (Ditjen POM, 1995)
Nama resmi
:
AETHANOLUM
Nama lain
:
Etanol
RM / BM
:
C2H5OH / 64,51
Pemerian
:
Cairan jernih; tidak berwarna, bau khas
Kelarutan
:
Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih tidak berwarna
Kegunaan
:
Sebagai pelarut
Fenolftalain (Ditjen POM. 1995)
Nama resmi
:
FENOLFTALAIN
Nama lain
:
Fenolftalain
RM / BM
:
C20H14O4 / 318,2
Pemerian
:
Serbuk atau hablur, putih atau kekuningan
Kelarutan
:
Sukar larut dalam air,larut dalam etanol 95% dan dalam eter p.
Kegunaan
:
Sebagai Indikator
Aquades (Ditjen POM. 1979)
Nama resmi
:
AQUA DESTILLATA
Nama lain
:
Air suling
RM / BM
:
H2O / 18,02
Pemerian
:
Cairan tidak berwarna , tidak berbau, dan tidak berasa.
Kegunaan
:
Sebagai pelarut.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 5
II. METODE
1.1 Alat dan Bahan yang digunakan
A. Alat yang digunakan :
Nama Alat
Gambar
Nama Alat
Gambar
1. Buret
2. Statif
3. Klep Penjepit
7. Pipet tetes
4. Gelas ukur
8. Pipet volume
5. Gelas beaker
9. Corong kaca
6. Erlenmeyer
10. Labu Takar
B. Bahan yang Digunakan :
1. Asam Oksalat 5. Indikator Penoftalin
2. NaOH 6. Indikator Merah Fenol
3. Asam Oksalat 7. Etanol netral 95%
4. Aquadest bebas CO2
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 6
2.2 Prosedur Kerja
2.3 Pembuatan reagen
1. Pembuatan larutan NaOH 0.1 N
2. Pembuatan etanol 95% netral
Masukan 25 ml etanol 95% kedalam erlenmeyer
Tambahkan 1 tetes fenil merah
Tambahkan NaOH 0.1 N tetes demi tetes sehingga larutan warna merah muda
Siap digunakan
Menimbang 4 g NaOH, lalu dibuat larutan NaOH 1000 mL
Menimbang asam oksalat 6,3035 g, lalu dibuat menjadi larutan asam oksalat 1000 mL
Pembakuan larutan NaOH 0.1 N dengan LBP asam oksalat
Menimbang asam salisilat sebanyak 3x
Pembuatan etanol 95% netral untuk masimg-masing sampel 25 ml
Timbang 4 g NaOH, masukan kedalam labu ukur 1000 ml
Tambahkan aquadest 1000 ml
Siap digunakan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 7
3. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat
4. Pembakuan larutan NaOH 0.1 N dengan LBP Asam oksalat
5. Penetapan kadar asam salisilat dengan LBS NaOH 0.1 N
Timbang 500 mg asam salisilat
Tambahkan 25 ml etanol 95% netral
Tambahkan 3 tetes indikator PP
Titrasi dengan NaOH 0.1 N hingga merah muda
10 ml larutan as.oksalat dihidrat, masukan kedalam erlenmeyer
Tambahkan 2-3 tetes indikator phenolftalein
Titrasi dengan larutan NaOH 0.1N hingga merah muda
Timbang 6,3035 g as oksalat, masukan kedalam labu ukur 1000 ml
Tambahkan sedikit aquadest sampi larut
Tambahkan aquadest ad 1000 ml, siap digunakan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 8
III. DATA PENGAMATAN
3.1 Penimbangan Sampel Asam Salisilat
Kertas Timbang
Sampel I
Sampel II
Sampel III
Kertas timbang kosong
102,2 mg
100,4 mg
76,1 mg
Kertas timbang + Isi
602,2 mg
601,2 mg
577,4 mg
Kertas timbang + Sisa
102,3 mg
100,8 mg
77,3 mg
Bobot Sampel
499,9 mg
500,3 mg
500,1 mg
3.2 Data Pembakuan NaOH dengan Asam OKsalat
Replikasi
Bobot penimbangan
Volume Titran (HCl)
1
10,0 ml
9,6 ml
2
10,0 ml
10,8 ml
3.3 Data Penetapan Kadar Asam Salisilat dengan NaOH
Replikasi
Bobot Penimbangan
Volume Titran (HCl)
1
499,9 mg
10,6 ml
2
500,3 mg
10,8 ml
3
500,1 mg
10,7 ml
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 9
IV. PERHITUNGAN
4.1 Pembuatan Asam Oksalat 0,1 N sebanyak 1000 ml Berdasarkan FI IV.
Be = = = 63,035
0,1 N = x
gram = = 6,3035 gram/1000 ml
4.2 Pembuatan NaOH 0,1 N sebanyak 1000 mL Berdasarkan FI IV.
Untuk membuat 1000 ml larutan NaOH 1 N diperlukan 40 gram NaOH.
Maka, untuk membuat larutan NaOH 0,1 N = x 40 gram = 4 gram/1000mL
4.3 Pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat
N NaOH =
I. N NaOH =
= 0,1041 N = 0,0925 N
𝑁𝐴𝑠.𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑥 𝑉 𝐴𝑠.𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻
0 1𝑁 𝑥 10 0 𝑚𝑙9 6 𝑚𝑙
II. N NaOH =
0 1𝑁 𝑥 10 0 𝑚𝑙10 8 𝑚𝑙
Rata – rata Normalitas NaOH = 0,1041 N + 0,0925 N2 = 0,0983 N
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 10
4.5 Penentuank Kadar Asam Salisilat dengan Larutan Baku NaOH.
0,1 N NaOH setara dengan 13,81 mg Asam Salisilat
Kadar Asam Salisilat = 𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 x 100%
I.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 499 9 𝑚𝑔 x 100% = 28,78 %
Rata - rata Kadar Na. Bikarbonat = 8 8%: 9 %: 9 4% = 29,04 %
II.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 8 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝑚𝑔 x 100% = 29,30 %
III.Kadar Asam Salisilat = 89 𝑁 𝑥 𝑚𝑙 𝑥 8 𝑚𝑔 𝑥 𝑚𝑔 x 100% = 29,04 %
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 11
IV. PEMBAHASAN
Kadar keasaman suatu senyawa dapat dihitung dengan menitrasi asam atau basa dengan menggunakan metode asdimetri dan alkalimetri. Pada percobaan ini dibahas tentang bagaimana suatu senyawa dapat dihitung kadarnya dengan menggunakan metode alkalimetri. Metode alkalimetri yaitu penitrasian suatu asam dengan menggunakan larutan baku basa sebagai titran.
Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna pada larutan titer yang telah ditambahkan indikator. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna pada larutan titer yang telah ditambahkan indikator. Alasan penggunaan indicator penoftalein karena perubahan warnanya yang jelas yaitu pada titrasi alkalimetri warnanya dari tidak berwarna menjadi merah muda. Perubahan warna tersebut yang menandakan titik akhir titrasi.
Pada percobaan ini indikator yang digunakan penolpthalin yang mempunyai trayek pH dari 8,3 sampai 10,0 dan perubahan warnanya dari tak berwarna sampai warnanya merah muda.
Sebelum melakukan penetapan kadar Asam salisilat secara alkalimetri dengan menggunakan larutan baku sekunder NaOH, terlebih dahulu dilakukan pembakuan menggunakan larutan baku primer Asam oksalat untuk mengetahui normalitas dari NaOH sebagai larutan baku sekunder. Dari hasil pembakuan diperoleh kadar rata-rata normalitas NaOH sebesar 0,0983 N.
Reaksi yang terjadi pada pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat adalah sebagai berikut :
H2C2O4 + 2NaOH  Na2C2O4 + 2H2O
Selanjutnya dilakukan penetapan kadar asam salisilat menggunakan larutan baku sekunder NaOH. Penitrasian dilakukan dengan NaOH sehingga larutan mengalami perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Pada penentuan kadar asam salisilat dilarutkan dengan etanol netral 95 % dikarenakan kelarutan asam salisilat itu sendiri larut dalam etanol dan eter dan sukar larut dalam air.
Dari hasil titrasi alkalimetri, didapatkan normalitas NaOH yaitu 0,0983 N, yang berat setara asam salisilat 13,81 mg, maka didapat kadar rata-rata asam salisilat sebesar 29,04 %.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 12
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Normalitas rata – rata NaOH yang diperoleh yakni 0,0983 N
2. Kadar rata-rata natrium bikarbonat yang diperoleh yakni 29,04 %
IV DAFTAR PUSTAKA
http://rikihidayathidayat.blogspot.com/2012/04/praktikum-iii-acidimetri-alkalimetri.html
http://serbamurni.blogspot.com/2012/02/contoh-laporan-praktikum-alkalimetri-dan.html
http://etnarufiati.blogspot.com/2009/03/analisis-kuantitatif.html
http://arullatif.wordpress.com/2012/06/07/titrasi-asam-basa-2/
Sonny Widiarto, 2009. Kimia Analitik 2. Volumetri/Titrimetri.
Modul Praktikum Kimia Farmasi II. 2013. D3 Farmasi Poltekes TNI AU Bandung.
Bandung, 28 February 2013
Praktikan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II
Kimia Farmasi II Page 13
LAMPIRAN
Pembakuan Larutan Baku Sekunder NaOH dengan Larutan Baku Primer Asam Oksalat.
Penetapan Kadar Asam Salisilat menggunakan Larutan Baku Sekunder NaOH